BAGAIMANA PANDANGAN KALIAN MENGENAI MAQOMAT DALAM TASAWWUF : MA’RIFAT DAN RIDHA
Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com
Kali ini Rilis_Wahyu.com ingin membahas maqomat dalam tasawwuf : ma’rifat dan ridha. Tasawwuf ialah suatu usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, untuk dekatkan diri dengan Sang Pencipta. Dalam upaya pendekatan diri seorang sufi melalu berbagai proses yang kita kenal dengan maqomat. Dalam mahrifat dalam tasawwuf ini ada beberapa langkah diantaranya yaitu ma’rifah dan ridha. Ma’rifat ialah sesuatu yang mengetahui atau mengenal. Hubungkan dengan pengalaman tasawwuf, istilah ma’rifah ialah mengenal Allah SWT. Ridha ialah rela menerima apapun yang telah ditentukan dan ditakdirkan Tuhan kepadanya. Kerelaan dan rasa syukur terhadap hidup yang dijalani akan membuahkan kesenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Tahapan tersebut adalah tahapan tinggi pencapaian seorang sufi setelah melalui beberapa maqamat sebelumnya taubat, sabar, zuhud, dan faqir.
A. Konsep Maqam Ma'rifah dalam Tasawuf
1. Pengertian dan Konsep Maqomat Ma’rifat
Manurut bahasa, ma’rifat berasal dari kata `arafa, ya’rifu, `irfân, ma’rifah, yang artinya pengalaman atau pengetahuan. dapat pula berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu yang biasa didapati oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifah adalah pengetahuan yangmana obyeknya bukan pada sesuatu yang bersifat dzahir, akan tetapi lebih terhadap batin.
Kaum sufi membedakan antara kata ma’rifat dan ilmu. Dalam wacana sufistik, ma’rifat sering juga digunakan untuk menunjukkan salah satu tingkatan (maqâm) atau hâl (kondisi psikologis) dalam tasawuf. Oleh karena itu ma’rifat diartikan sebagai pengetahuan melalui hati sanubari.
Menurut Harun Nasution, ma’rifah digunakan untuk menunjukkan pada salah satu tingkatan dalam tasawuf. Dalam arti sufistik ini, ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari. Pengetahuan itu demikian lengkap dan jelas sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu, yaitu Tuhan.
Dari literatur yang diberikan Harun Nasution tentang Ma’rifat, Ma’rifat berarti mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati dapat melihat Tuhan. Oleh karena itu orang-orang sufi mengatakan:
a). Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup, ketika itu yang dilihat hanya Allah.
b). Ma’rifat adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
c). Yang dilihat orang arif baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanya Allah.
d). Sekiranya ma’rifah mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya... dan semua cahaya akan menjadi gelap disamping cahaya keindahan yang gilang gemilang.
Menurut Imam Al-Ghazali, Ma’rifat adalah upaya untuk mengenal Tuhan sedekat-dekatnya yang diawali dengan pensucian jiwa dan dzikir kepada Allah secara terus-menerus, sehingga pada akhirnya akan mampu melihat Allah dengan hati nuraninya. Ma’rifat juga merupakan sumber dan puncak kelezatan beribadah yang dilakukan oleh seorang manusia di dunia. Dengan demikian manusia akan memperoleh kesenangan yang luar biasa dari yang lainnya.
Menurut Rabi’ah al-Adawiyah, Ma’rifat adalah agar engkau palingkan mukamu dari makhluk agar engkau dapat memuaskan perhatianmu hanya kepada Allah saja, karena ma’rifah itu adalah mengenal Allah dengan sebaik-baiknya. Maka dari itu, Rabi’ah al-Adawiyah mengatakan bahwa mahabbah dan ma’rifah selalu berdampingan, dengan mahabbah dan ma’rifah ilmu yang tertinggi maka manusia akan mendapatkan keindahan Tuhan dengan kebenaran yang sebenarnya dan harapan akan kebersamaan dengan Sang kekasih Tercinta di akhirat kelak.
Menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Ma’rifat tidak dapat dibeli atau dicapai melalui usaha manusia. Ma’rifat adalah anugerah dari Allah, Setelah seseorang berada pada tingkatan ma’rifat, maka akan mengenal rahasia-rahasia Allah. Allah memperkenalkan rahasia-rahasia-Nya kepada mereka hanya apabila hati mereka hidup dan sadar melalui zikrullah. Dan hati memiliki bakat, hasrat, dan keinginan untuk menerima rahasia Ketuhanan.
2. Mempersiapkan Maqomat Ma’rifat
Menurut Maulana Al habib Muhammad Luthfi bin ali bin yahya, ma’rifat atau mengenal Allah ada ilmunya. Pertama adalah ilmu tauhid yakni mengesakan Allah, ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas adanya Allah dengan sifat-sifatNya, yang wajib, yang mustahil dan yang jaiz, serta pembuktian atas kerasulan para rasul-Nya dengan sifat-sifat mereka yang wajib, mustahil dan jaiz. Sedangkan yang kedua adalah sunnah-sunnah Baginda Nabi Muhammad SAW, yang merupakan bekal untuk ma’rifat kepada Allah dan dengannya pula ma’rifat kepada Allah akan meningkat dalam bentuk pengabdian kepada-Nya. Dan untuk mengerti dan mengenal Allah SWT, kita memerlukan bimbingan seorang guru dan mengikuti thoriqohnya, bila tidak maka akan sulit rasanya untuk mengenal Allah.
Selanjutnya kita perlu alat untuk menuju maqomat ma’rifat, alat yang dapat digunakan untuk mencapai maqomat ma’rifat pada dasarnya telah ada dalam diri kita yakni Qalb atau hati, namun qalb selain alat untuk merasa adalah juga alat untuk berfikir. Bedanya qalb dengan akal ialah bahwa akal tak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, sedangkan qalb bisa mengetahui hakikat dari segala yang ada, dan jika dilimpahi cahaya Tuhan.
Proses sampainya qalb pada cahaya Tuhan ini erat kaitannya dengan konsep takhalli, tahalli dan tajalli. Takhalli yaitu mengosongkan diri dari akhlak yang tercela dan perbuatan maksiat melalui taubat. Hal ini dilanjutkan dengan tahalli yaitu menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan amal ibadah. Sedangkan tajalli adalah terbentuknya hijab, sehingga tampak jelas cahaya Tuhan. Tajalli adalah jalan untuk mendapatkan ma’rifat, dan terjadi setelah terjadinya al-fana yakni hilangnya sifat-sifat dan rasa kemanusiaan, dan melebur pada sifat-sifat Tuhan. Alat yang digunakan untuk mencapai tajalli ini adalah hati, yaitu hati yang telah mendapatkan cahaya dari Tuhan.
Ma’rifat yang dicapai seseorang itu terkadang diberi nama yang bermacam-macam. Imam al-Syarbasi menyebutnya ilmu al-mauhubah (pemberian). Sedangkan Imam Asy-Syuhrawardi menyebutnya al-Isyraqiyah (pancaran), Ibnu Sina menyebut al-faid (limpahan). Sementara dikalangan dunia pesantren dikenal dengan istilah futuh (pembuka), dan dikalangan masyarakat jawa dikenal dengan nama ilmu laduni,dan dikalangan kebatinan disebut wangsit.
3. Tokoh Pengembang Maqomat Ma’rifat
Ada dua orang tokoh yang mengenalkan paham ma’rifat, yakni Al-Ghazali dan Dzun Nun al Misri. Al-Ghazali memiliki nama lengakap Abu Hamid Muhammad, Al Ghazali lahir pada tahun 1059 M. di Ghazaleh, kota kecil terletak didekat Tus di Khurasan. Beliau pernah belajar pada Imam Al-Haramain, Al-Juwaini, Guru Besar di Madrasah Al-Nizamiah Nisyafur. Setelah mempelajari ilmu agama, beliau mempelajari teologi, ilmu pengetahuan alam, filsafat, dan lain-lain, lalu akhirnya ia memilih tasawuf sebagai jalan hidupnya. Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi ia kembali ke Tus dt tahun 1105 M. dan meninggal disana tahun 1111 M ( Harun ,1983 : 43 ).
Sedangkan Dzun Nun Al-Misri berasal dari Naubah, suatu negeri yang terletak Sudan dan Mesir. Tahun kelahirannya tidak banyak diketahui, yang diketahui hanya tahun wafatnya, yaitu 860 M. menurut Hamka, beliaulah puncaknya kaum Sufi dalam abad ketiga Hijrah. Beliaulah yang banyak sekali menambahkan jalan menuju Tuhan. Yakni mencintai Tuhan, membenci yang sedikit, menuruti garis perintah yang diturunkan, dan takut terpaling dari jalan yang benar.
Bukti bahwa kedua tokoh tersebut membawa paham ma’rifat dapat diikuti dari pendapat-pendapatnya. Al-Ghazali mengatakan, ma’rifat adalah “nampak jelas rahasia rahasia ke Tuhanan dan pengetahuan mengenai susunan urusan ke Tuhanan yang mencakup segala yang ada.” Lebih lanjut al-Ghazali mengatakan, ma’rifat adalah memandang kepada wajah Allah.
Ma’rifat menurut Dzu Nun Al-Misri adalah pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Menurutnya ma’rifat hanya terdapat pada kaum Sufi yang sanggup melihat Tuhan dengan hati sanubari mereka. Pengetahuan serupa ini hanya dapat diberikan Tuhan pada kaum Sufi. Ma’rifah dimasukkah Tuhan ke dalam hati sorang Sufi, sehingga hatinya penuh dengan cahaya. Ketika Dzun Nun Al-Misri ditanya bagaimana ia memperoleh ma’rifat tentang Tuhan, beliau menjawab: “Aku mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tak akan tahu Tuhan.” Ungkapan tersebut menunjukan bahwa ma’rifah tidak diperoleh begitu saja, tetapi melalui pemberian Tuhan. Ma’rifah bukanlah hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan.
4. Ma’rifat dalam Al-Quran dan Al-Hadis
Pengetahuan tentang rahasia-rahsia dari Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya melalui pancaran cahaya-Nya yang dimasukkan Tuhan kedalam hati seorang Sufi. Dengan demikian ma’rifat berhubungan dengan nur (cahaya Tuhan). Di dalam al-Qur’an, dijumpai tidak kurang dari 43 kali kata nur diulang dan sebagian besar dihubungkan dengan Tuhan. Seperti ayat yang berbunyi:
ومن لم يجعل الله له نورا فما له من نور
Artinya :Dan barang siapa yang tidak diberi cahaya (cahaya) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.(Q.S. An Nur, 24:40)
Ayat tersebut berbicara mengenai cahaya Tuhan. Cahaya tersebut dapat diberikan Tuhan kepada hamba-Nya yang dia kehendaki. Mereka yang mendapatkan cahaya akan dengan mudah dapat mendapatkan petunjuk hidup, sedangkan mereka yang tidak mendapatkan cahaya akan mendapatkan kesesatan hidup. Dalam ma’rifat kepada Allah, yang didapat oleh seorang Sufi adalah cahaya. Dengan demikian, ajaran ma’rifat sangat dimungkinkan terjadi dalam Islam, dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.
Dalam hadis kita jumpai sabda Rasulullah dalam hadits qudsi yang berbunyi :
كنت حزينة خا فية احببت ان اعرف فخلقت الخلق فتعرفت اليهم فعرفوني
Artinya : Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang tersembunyi (Ghaib), Aku ingin memperkenalkan siapa Aku, maka ciptakanlah Makhluk. Oleh karena itu aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka. Maka mereka itu mengenal Aku. (hadits Qudsi)
Hadits tersebut memberikan petunjuk bahwa Allah dapat dikenal oleh manusia. Caranya dengan mengenal atau meneliti ciptaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa ma’rifat dapat terjadi, dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
B. Konsep Maqam Ridha Dalam Tasawuf
Kata ridha berasal dari kata radhiya, yardha, ridhwanan yang artinya “senang, puas, memilih persetujuan, menyenangkan, menerima”. Dalam kamus bahasa Indonesia, ridha adalah “rela, suka, senang hati, perkenan, dan rahmat”. Ibnu Ujaibah berkata bahwa ridha adalah menerima kehancuran dengan wajah tersenyum, atau bahagianya hati ketika ketetapan terjadi, atau tidak memilih-milih apa yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, atau lapang dada dan tidak mengingkari apa-apa yang datang dari Allah.”
Syekh Zunnun al Misri berkata bahwa ridha adalah keadaan hati seseorang yang selalu merasa bahagia dengan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT atas dirinya. Sedangkan bagi Ibnu ‘Athaillah, maqam ridha adalah sikap sesorang dalam menampik sikap ikut campur terhadap kehendak Allah SWT. Ia telah merasa cukup dengan pengaturan Allah SWT untuknya.
Dapat dikatakan bahwa ridha itu sebagai perpaduan antara sabar dan tawakkal yang kemudian melahirkan sikap mental yang tenang menerima segala situasi dan kondisi. Setiap apa yang terjadi pada diri seseorang sufi ia menerima dengan hati terbuka bahkan dengan nikmat dan bahagia walaupun yang datang itu bencana. Ridha merupakan prestasi tinggi yang diperoleh oleh seorang sufi dalam perjalanan hidupnya, selain itu maqam ridha sulit dicapai oleh seorang hamba, kecuali orang-orang yang telah dikehendaki dan dipilih oleh Allah Swt., Zunnun al Misri berkata, “Tanda-tanda orang yang telah mencapai ridha ada tiga", yaitu:
1). Meninggalkan usaha sebelum terjadi ketentuan (takdir).
2). Hilangnya rasa resah gelisah setelah terjadi ketentuan Allah.
3). Cinta yang mendalam dikala menghadapi cobaan pada dirinya dengan hati yang senang dan gembira.
Firman Allah :
Q.S. Al-Fajr : 27-30
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Ridha (senang) terhadap setiap ketentuan yang datang dari Allah, diterima dengan ikhlas dan bahagia. Sikap tersebut akan diperoleh setelah Allah ridho kepadanya, sebagaimana firman-Nya: ”Allah ridho terhadap mereka dan mereka ridho kepada-Nya (QS. [98]: 8). Dalam hal ini seperti diungkapkan Asmaran dengan mengutip perkataan Ibnu Khafif: ”Ridho itu terbagi dua macam, yaitu: ridho dengan kekuatan yang telah diberikan Allah dan ridho dari Allah. Ridho dalam bentuk pertama merupakan hasil dari usaha manusia dan ridho yang kedua hanya merupakan karunia Allah.
Dalam hadits atha’, Ibnu Abbas berkata: Ketika Rasulullah SAW menemui sahabat – sahabat Anshor, Beliau bersabda: ”apakah kamu orang – orang mukmin?” , lalu mereka diam, maka berkatalah Umar : “ Ya, Rasulullah”. Beliau SAW bersabda lagi: “ apakah tanda keimananmu?”, mereka berkata: “ kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan ridha dengan qada’ ketentuan Allah”, kemudian Nabi SAW bersabda lagi:”Orang- orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’ba”.
Dalam hadits diatas diterangkan dengan jelas bahwa ridha merupakan tanda dari keimanan seseorang, ridha adalah suatu maqam mulia karena didalamnya terhimpun tawakal dan sabar.
Ridha tidak berarti menerima begitu saja cobaan yang diberikan oleh Allah swt. Walaupun dalam pengertiannya, ridha berarti menerima apa yang diberikan Allah dengan sabar dan ikhlas, bukan berarti tanpa ada keinginan maupun usaha untuk mengubah situasi yang telah terjadi menjadi lebih baik lagi.
Mereka yang ridha, dapat merasakan hikmah dan kebaikan Dzat yang mendatangkan ujian. Mereka tidak berburuk sangka kepadaNya. Disaat yang lain menghayati betapa Dia Maha Agung, Maha Mulia dan Maha Sempurna. Mereka bahkan dapat menikmati musibah yang menimpanya, karena mereka tahu bahwa musibah itu datangnya dari Dzat yang dicintainya.
My Refleksi
Dalam membahas tasawwuf kita akan mengenal Ma'rifat, ma'rifat ialah mengetahui keberadanya Allah SWT atau mengenal adanya Allah SWT. Diamana mengetahui Allah SWT berbeda dengan mengenal Allah SWT, sedangkan mengenal itu tahapan yang paling tinggi yang Haqiqi adalah bahwa dia benar-benar tahu akan yang dikenali. Mengenal ialah bukan langsung mengetahui, tau dari orang lain dan tau dari diri sendiri dan tidak tau akan kata mengenal, mengenal Allah itu bisa mendefinisikan dari wujud nyatanya. Pemahaman ini harus ditekankan ke semua manusia agar bisa mencintai yang sempurna. Apabila Seseorang sudah mengenal Allah berarti ia faham semua yang telah digariskan ialah kuasa-Nya. Bila seseorang mengenal Allah SWT maka disemua tindakannya akan menjadi lebih baik semua perintahnya dilakukan dan menjahui segala yang dilarang oleh-Nya karena rasa takutnya akan siksa Allah di akhirat. Seseorang yang sudah mengenal tidak hanya untuk mengtau secara umum tapi tahu kesan tersirat dari Allah SWT.
Sebagai hamba patutlah Kita bersyukur atas segala nikmat yang Allah anugrahkan. Apabila seorang hamba sudah mencapai titik iklas maka akan timbul ridha. Ridha ialah suatu tingkatan yang paling tinggi untuk dekat pada Sang Pencipta, bagaimana seorang hamba tahu akan ridha Allah SWT padahal banyak berbuat dosa dan melakukan yang dilarangnya sehingga kita harus selalu bertobat terhadap segala perbuatan kita. Dimana dalam proses ini Allah SWT akan menguji taubat kita apakah sudah konsekuen tidak. Mengizinkan dan menerima dengan senang hati apa yang telah menjadi keridhoan Allah SWT atas segala garis takdir-Nya. Atas segala kenikmatan baik nikmat islam, ikhsan, dan kesehatan maka kita harus bersyukur dengan berpikir itu semua itu atas karunia Allah SWT, maka kita harus dekat dengan Allah agar selalu diberikan hal yang kita inginkan untuk dekat dengan Allah kita harus mengenal Allah dengan baik terlebih dahulu, bersyukur adalah kunci dari semuanya yaitu ridha dan Ma'rifat.
Tuhan selalu Menunggu di ujung sepertiga malam dengan setia.
Kenapa bisa begitu?...
Karena Tuhan sedang merindukan seorang hamba yang berlumuran dosa.
Meskipun hamba itu mendatanginya dikala beban dipundaknya yang hampir membunuhnya.
Apakah segitu penyayangnya Sang Pencipta?...
Iya, dia Maha Cinta pada semua mahluk ciptaanNya.
Namun ia juga akan menitipkan suatu ujian pada yang ia percaya agar melihat ketanguhan akan padanya.
Lalu klimaknya apa?...
Klimak dari ini semua kita harus tawakal dan selalu ridha atas segala garis takdir Sang Pencipta.
@Rilis_Wahyu
#Rilis_Wahyu.com
#rilisyanglagirindu
#jangantanyasiapakarnaakupuntaktau:(
Komentar
Posting Komentar