Polemik Pendidikan di Kondisi Wabah Covid19

Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com


Di pengujung tahun 2019 dunia di hebohkan dengan munculnya Novel 201 Novel Coronavirus (2019-nCoV) penyakit pernapasan, sebelum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan nama resmi sebagai Covid-19 pada bulan Februari 2020.
Covid-19 pertama kali diidentifikasi di kota Wuhan, di provinsi Hubei Cina pada Desember 2019. Covid-19 telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia terus bertambah. 
Awal kemunculan covid19 di Indonesia banyak kasus kesulitan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis akibatnya banyak pasien dan tenaga medis yang terpapar sehingga banyak nyawa yang tak tertolong.
Penularan covid19 yang melalui kontak fisik yang tak bisa di hindarkan, menyebabkan banyaknya orang yang terjangkit. Vaksin covid19 yang belum ditemukan akibatnya merebaknya jumlah pasien yang positif yang akhirnya bertambah jumlah kematian yang paling tinggi di tahun ini. Dengan membludaknya pasien yang positif mengakibatkan kewalahan oleh pihak rumah sakit dan tenaga medis sehingga penanganannya kurang baik.
Dengan merebaknya wabah covid19 ini banyak pemimpin negara yang mengeluarkan kebijakan yang sesuai dengan protokol kesehatan untuk memutuskan mata rantai penyebaran wabah covid19. Banyak negara yang menerapkan social distencing untuk mencegah penuralan covid19, namun dengan adanya kebijakan ini berdampak negatif di segala bidang kehidupan. 
social distencing ini menyebabkan penurunan laju pertumbuhan dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, tapi tidak ada pilihan lain karena cara ini adalah cara yang paling efektif dan efesien.
Adanya kebijakan social distencing berakibat meruntuhkan roda kehidupan manusia, masalah ekonomi yang paling mencolok dampaknya, karena masyarakat merasakan dampaknya, tersendatnya laju ekonomi mengakibatkan kekurangan kebutuhan primer untuk memenuhi kebutuhan hidup, apabila ini tetap belanjut negara akan terbebani akibat menanggung kebutuhan masyrakat.
Tak dipungkiri bidang pendidikan juga terdampak kebijakan ini. Pemerintah melalui kementerian pendidikan mengeluarkan kebijakan untuk belajar secara online dari rumah masing-masing, menyebabkan munculnya polemik-polemik dari warga sekolahan.
Munculnya faktor ketidak siapan stakeholder sekolah untuk pembelajaran daring menjadi penyebab utama dari kekacauan ini, meskipun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan akan standar kelulusan dan kenaikan di kondisi darurat covid19.
Adanya perubahan cara pembelajaran ini mewajibkan berbagai pihak untuk patuh dan mengikuti alur pembelajaran dapat berlangsung dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menunjang media pembelajaran daring. Pembelajaran daring ini juga memiliki faktor hambatan dalam pelaksanaannya efektivitas pembelajaran sebagai berikut :

1. Kurangnya penguasaan teknologi
Tidak dapat dipungkiri tidak semua pendidik bisa menguasai teknologi seperti para pendidik yang lahir era-80an yang kurang fasih teknologi. Namun tidak menutup kemungkinan apabila mereka belajar pasti merka bisa. Seperti para siswa alami, apabila suda terbiasa pasti mahir. Meskipun demikian para guru pun masih berebut fasilitas teknologi yang di miliki sekolah karena jumlahnya yang terbataas.

2. Keterbatasan sarana prasarana
Mempunyai perangkat pendukung teknologi juga menjadi problem tersendiri, bukan rahasia lagi apabila kesejahteraan guru belum sepenuhnya terjamin di negri ini. Maupun siswa, karena tidak semua orantua mampu memfasilitasi teknologi bagi anaknya. Meskipun orang tua memiliki mereka tetap belum tau akan memanfaatkan untuk media pembelajaran.

3. Jaringan internet
Keterkaitan anara pembelajaran daring tidak lepas dengan adanya jaringan internet ini menjadi polemik di kalangan guru dan murit. Banyak faktor diantaranya letak geografis yang menjadi kendala sinyal internet.

4. Biaya 
Jaringan internet ini juga memperluakan biaya, ini menjadi polemiki antara guru, siswa dan orang tua siswa yang kurang siap menambah baaya pengeluaran jarinagan internet.

Metode pembelajaran daring bukan barang baru di dunia pendidikan, misalnay di Perguruan Tinggi sudah banyak di gunakan baik di dalam maupun luar negri. Namun apabila metode ini diterapkan di lembaga di bawahnya mungkin masih mengalami kesulitan karena banyak faktor seperti yang telah di uraikan di atas.
Dengan adanya kemajuan zaman setiap individu di tuntut untuk mau mengikuti perubahan agar tidak tergilas akan kemajuan tersebut sehingga berdampak pada cara atau metode pembelajaran yang terbiasa dilakukan.
Di era global seperti saat ini tidak ada yang tidak mungkin untuk mengunakan sistem pembelajaran daring karena efektif dan ekonomis dalam menstranfer pengetahuan yang baik, cepat, mudah dan murah.
Adanya perubahan dan metode pendidikan menuntut stakeholder pendidikan untuk bertransformasi dalam menyiapkan perubahan keadaan saat ini. Tidak mungkin ada bantahan dan penolakan adanya perkembangan teknologi saat ini, maka bersiaplah jika tak mau tergilas oleh roda zaman dan era digital saat ini serta di masa mendatang.
Teknologi ibrat ular berkepala dua yang masing masing memiliki dampak masing-masing yang sama besarnya apabila kita bijak pengunaanya, yaitu sisi positifnya kita bisa melihat dunia dan segala informasi hanya dalam gengaman dan sisi negatifnya kita larut akan hal duniawi serta nafsu bihari yang di sajikan di layar gengaman. Yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia.
Adanya perkembangan teknologi patutlah kita isi dengan memperbanyak litrasi teknologi untuk mempelajari pengetahuan baik itu bersifat kognitif (pengetahuan), afditif (sifat) dan psikomotor (keterampilan). Supaya terwujudnya tujuan dari penciptaanya yang bisa membantu meringankan kebutuhan manusia.
Perlunya kesadaran ini di bidang pendidikan, litrasi teknologi perlu adanya pembelajaran oleh seluruh stakeholder pendidikan, terutama untuk menmanfaatkan media pembelajaran daring saat ini. Ada beberapa yang wajib di pahami oleh stakeholder pendidikan sebagai berikut :
1. Orang tua Siswa
Pada dasarnya pendidikan yang utama dan yang pertama ada pada orang tua setiap anak. Sehingga dalam kondisi saat ini patutlah orang tua mendampingi putra/putrinya untuk tau bagaiman perkembagannya. Seperti banyak cuwitan metsos yang viral belakan ini yang banyak keluan dari orang tua susahnya mendidik anak yang perbuatanya kadang positif juga negatif. Dengan kejadiaan ini memberi renungan bagi para orang tua untuk lebih sabar, dan memiliki kemampuan untuk menambah pengetahuan selama di rumah. karena pada dasarnya sekolah dan guru hanyalah fasilitator di ranah pendidikan saja.

2. Guru 
Dengan kejadiaan saat ini menjadi tolak ukur bagi guru untuk bersiap dengan segala kemungkinan baik itu menambah pengetahuannya dalam ranah teknologi maupun bersiap untuk tergantikan fungsinya dengan guru yang berpa mesin atau mbah google (internet). Karena guru mesin ini lebih cepat dalam memberikan informasi penetahuan tanpa ada batasan ruang dan waktu, keefektifan dalam penyampaian. Maka guru juga memiliki PR besar yaitu bagaiaman guru mesin ini tidak bisa menggantikan peran guru manusia?. Selayaknya mesin hanyalah buatan manusia dan sepandai pandainya mesin masih pandai manusia, haruslah manusia mampu mengendalikan mesin. Maka dapat di simpulkan pran figur guru di sini yaitu sebagai filter dari transfermasi pengetahuan yang ada di internet yang baik maupun buruk. Sampai akhir yamanpun peran guru tak bisa tergantikan dengan adanya mesin apabila itu terjadi maka akan terjadi kehancuran bumi ini.

3. Sekolah 
Sebagai lembaga pendidikan patutlah sekolah memiliki fasilitas serta media pendukung untuk menyokong perubahan zaman ini. Dimana zaman yang tidak bisa lepas dari jeratan teknologi di segala aktifitas maka dari itu patutlah sekolah pun menjadi pendukung yang utama. Dengan adanya pembatalan UN, USBN, wisuda, adanya larangan mengumpulkan kerumunan di sekolah dengan digantikan dengan kegiatan berbasis daring dari rumah karena kondisi darurat penyebaran virus covid19. Dengan adanya ini membuka pradikma baru bagi lembaga pendidikan tidak hanya KBM secara tatap muka melainkan bisa dengan cara vertual dari rumah ke rumah lainya, dan adanya pemahaman baru yang tumbuh serta di kembangkan kepada siswa dan orang tua bawasanya metode pembelajaran tidak hanya KBM tapi juga secara daring. Berupa pemanfaatan media gadget atau leptop untuk sarana pembelajaran daring secara mandiri.

4. Pemerintah 
Peranan pemerintah sangatlah penting saat ini melalui kementerian pendidikan untuk mengatur kebijakan sistem pendidikan nasional. Dengan ini semua elemen pendidikan patutlah ikut dan menjalankan kebijakan dari kimindikbud, karena tujuan dari pendidikan ialah upaya memajukan bangsa. Dengan kondisi ini komindibut mengeluarkan peraturan untuk menjalankan pendidikan sejara daring meskipun tidak mengikat. Tidak bisa di pungkiri kebijakan ini mungkin bisa di gunakan untuk penerapan sistem daring selanjutnya di kemudian hari. Pemerintah pasti sudah memiliki kebijakan dengan tren global ini yang dimana manusia tidak bisa lepas dengan teknologi. Sehingga setelah adanya kebijakan pantasnya pemerintah membenahi adanya hambatan yang berupa kondisi ekonomi, sosial, geografi yang ada di Indonesia agar rakyat bisa menjalankan kebijakan ini dengan baik. 

Adanya perubahan ini membuat kita untuk beradaptasi dari segala dampak positif dan negatif, dengan menerapkan protokol kesehatan serta norma-norma yang berlaku di masyarakat. Karena pada dasarnya manusia merupakan an-nas (mahluk sosial) yang memperlukan orang lain untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya.
Transpormasi perikaku manusia yang manua ke digital seperti fenomena yang merebak belakan ini yang melakuan kegiatan sehari-hari dengan cara yang mudah, cepat, ekonomis dan efesien waktu. Misalnay di dunia fesen, makana siap saji, jasa transportasi dan jasa pengiriman barang bisa mengunakan aplikasi gadget belanja online dan pendidikan dengan banyaknya kelas online di segala bidang dari ranah Paud, TK, SD, SMP, SMA, dan PTN yang disediakan pemerintah baik dengan aplikasi vertual maupun televisi pemerintah.
Tidak menutup kemungkinan dengan adanya perubahan saat ini memiliki dampak negatif. Di antaranya berkurangnya rasa empati, aktualisasi diri dan toleransi antara sesama karena kurangnya intraksi dengan sosial. Maka munculah sifat individualisme dan mementingkan diri sendirilah sebab bertolak ukurnya dengan materi duniawi.
Mungkin ini sudah kehendak dan cara Allah SWT untuk memeringatkan kepada hambanya tentang kuasa-Nya, semoga kita tetap istiqomah, sabar, bersyukur dan tetap husnudzon kepada Allah SWT bawasanya ada hikma di balik kejadian ini semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Penilaian Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di MI

Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Dan Indikator Pembelajaran Mata Pelajaran Aqidah Akhlak MTs

MENGENAL TOKOH-TOKOH TASAWWUF MASA KLASIK, ABAD PERTENGAHAN, MODERN DAN KONTEMPORER.