Sejarah Masuknya Islam Di Tanah Jawa
Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com
Adanya ekspedisi dagang oleh seluruh negara tanpa terkecuali bangsa Timur Tengah (Mesir) untuk mencari rempah – rempah di seluruh dunia. Dengan adanya jalur perdagangan di pulau Jawa (kerajaan Majapahit) mengakibatkan para sodagar Timur Tengah untuk singgah dan adanya sambutan baik oleh rakyat Majapahit maka timbulah akulturasi kebudayaan serta kerja sama yang saling menguntungkan. Pada saat itu para saudagar ini juga membawa misi lain yaitu menamkan keyakinanya.¹ Orang jawa saat itu memeluk kepercayaan Hindu-Budha namun kondisi saat itu Kerajaan Majapahit berada di ambang kehancuran karena adanya urusan politik internal yaitu adanya perang saudara antara Wirabumi dengan Rani sahita untuk merebutkan kekuasaan. Menjadi faktor pendukung untuk menanamkan keyakinan islam di tanah jawa karena islam tidak mengenal kasta.²
Kedatangan Islam di Jawa sekitar abad ke-11, dibuktikan dengan adanya makam
Fatimah binti Maimun serta makam Maulana Malik Ibrahin (Sunan Gersik).³ Dengan adanya makam-makam tersebut menjadi bukti orang Timur Tengah sudah masuk ke pulau jawa.⁴ Masyarakat jawa sebelum islam masuk, media yang digunakan untuk berdakwah yaitu
pendidikan, tasawuf, kebudayaan, ekonomi, politik, sosial (perkawinan dengan peribumi), dan kesenian semuanya di gabungkan menjadi satau sehingga menjadi metode yang ampuh.⁵ Proses penetrasi penyebaran agama islam ini secara damai, pendekatan kebudayaan menjadi penting dilakukan. Islam datang ketanah jawa bukan membawa pedang dan kelas, namun mengunakan sajadah dan sorban.⁶
Perkembangan islam di tanah jawa tidak lepas dari Peran walisongo. Walisongo
adalah tanda penyebaran islam di Indonesia, khususnya di tanah jawa yang memiliki peran penting dalam mendirikan kerajaan islam di Jawa. Walisongo merupakan 9 wali/manusia yang mencapai tingkatan tertentu yang memiliki kedekat dengan Allah SWT. Para wali ini
dekat dengan kalangan istana, memiliki kekuatan batin serta keilmuan yang tinggi. Sehingga rakyat yang beragama lama senang dan menerima 9 walisongo di jawa, dimana walisongo di bentuk oleh Sultan Turki Muhammad. Walisongo sebenarnya terdiri beberapa angatan mulai dari angakatan I sampai VI. Merekalah orang yang merekomendasikan sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka merupakan penasehat sultan.⁷ Kesembilan wali penyebar agama islam dan metode dakwahnya:
1. Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim)
Sunan gersik bergelar Sunan Maghribi, Syaikh Maghribi ia adalah seorang yang
ahli di bidang tatanegara yang ulung. Merupakan turunan Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali bin Abi Tholib. Datang ke Indonesia zaman majapahit 1379 M bersama raja Cermen.⁸ Di juluki Kakek Bantal karena pada waktu itu sering membantu fakir miskin Juga di juluki Bapak Spiritual Walisongo karena sangat konsisten untuk menyebarkan agama islam di Jawa Timur. Beliau wafat 882 H/1419 M di Gapura Wetan, Gresik,
JawaTimur.⁹
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Sunan Ampel Lahir 1401 M. Menikah dengan Nyai Ageng Manila yang
mempunyai 4 anak yaitu Dewi Sarah (istri Sunan Kalijaga), Sunan Bonang, Sunan
Drajat, Nyai Ageng Maloka. Sunan Ampel mendirikan pondok pesantren di Ampel
Denta. Memasukkan nilai-nilai ajaran islam ke dalam tradisi masyarakat. Membuat
huruf Pagon (arab jawa). Di usia senja Sunan Ampel masih disegagi oleh masyarakat namun tidak ada sumber resmi yang mengetahui wafatnya beliau.¹⁰ Namun beliau wafat 1478 M dimakamkan di sebelah masjid Ampel.
3. Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)
Sunan Bonang merupakan putra Sunan Ampel. Beliau terkenal sebagai ahli ilmu
kalam dan tauhid.¹¹ Dakwah di bidang sastra dan budaya. Membuat gamelan , suluk (menempuh jalan), dan menciptakan lagu yang dikenal tembang durma (bersuasana tegang, bengis, dan penuh amarah).¹² Di juluki sunan bonang karena berhasil membuat gamelan.¹³ Menyebarkan agama islam menggunakan gending dan pewayangan. Wafat 1525 M di Tuban.
4. Sunan Giri (Raden Paku)
Nama kecil Jatia Samudra, Ayahnya bernama Maulana Ishak. Nama lain dari
Sunan Giri adalah Raden Paku. Sunan Giri selalu aktif merencanakan berdirinya
negara islam di Demak dengan ikut serta menyerang ke Majapahit sebagai penasehat militer.¹⁴ Sunan Giri memabangun Pesantren di Giri. Beliau dakwah menggunakan jalur budaya (Jelungan, Jamuran, Gula Ganti, Cublak-Cublak Suwung, Pucung, Asmarandana, dll). MenciptakanlaguIlir-Ilir.
5. Sunan Drajat (Raden Qosim/Syarifuddin)
Beliau hidup pada saat Majapahit mengalami keruntuhan 1478 M (rakyat krisis dan paceklik). Kearifan dan kedermawaanya, berbudi pekerti dan tidak saling menyakiti berupa mengajari rakyat sekitar membuat rumah dan alat memikul orang seperti joli dan tandu.¹⁵ Konsep dakwah beliau dengan Bi Al-Hikmah yaitu tanpa paksaan. Beliau memiliki kepekaan yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial.
6. Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)
Nama aslinya Raden Mas Syahid, lahir 1430-an. Ayahnya Raden Sahur
(Tumenggung Wilatikta), dan ibunya bernama Dewi Nawangrum. Menciptakan aneka cerita wayang yang bernafaskan islam da menganti nama setiap tokoh bercorak islam.¹⁶ Qadi (pelaksana) Zaku (pembersih). Meninggal pada abad ke-15 di Desa Kadilangu, Demak, JawaTengah. Sunan kalijaga membolehkan masyarakat untuk membakar menyan (pengharum).
7. Sunan Kudus (Ja’far Sidiq)
Beliau di juluki Raden Undung dan Raden Amir Haji. Putra dari Raden Usman Haji (Blora). Beliau di juluki Walial-Ilmi yaitu menguasai Ilmu Agama. Menggunakan dakwah jalur budaya yaitu dengan tembang Gending Maskumambang dan Mijil.¹⁷ Beliau membangun Masjid di Loran 1549 M, yang bernama Al-Aqsa/AL-Manar. Wafat di Kudus 1550 M, didepan pintu pusaran makamnya tertulis asmaul
husnah yang berangka tahun 1296 atau 1878 M.¹⁸
8. Sunan Muria (Raden Umar Said)
Putra Sunan Kalijaga. Di juluki dengan Muria karena dakwahnya di lingkungan
Gunung Muria (18 Km di utara Kota Kudus sekarang).¹⁹ Perdesaan menyendiri di
Desa-Desa terpencil untuk berdakwah. Beliau mengakorasi kebudayaan Jawa dengan warna Islam seperti telung dino, pitu dino, nyatus dino dsb.²⁰ Kematian keluarganya membakar kemenanganya. Beliau menciptakan macapat tembang jawa yaitu sinom (nasihat) dan kinanthi (bernada gembira). Meninggal Abad 16 M di Bukit Muria.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Lahir di Pasai, Aceh. Beliau adalah cucu Raja Pajdajaran yaitu Prabu Siliwangi.²¹
Beliau menyebarkan islam di Daerah Cirebon, kesultanan Banten (Maulana
Hasanudin) dan menikah dengan 6 orang untuk memperluas dakwahnya hingga
wilayah Babadan.²² Wafat pada 1570 M di Cirebon.
Setelah para walisongo menyebarkan agama islam di pulau jawa, kepercayaan lama sepert dinamisme-animisme dan hindu-budha sedikit demi sedikit terjadi akulturasi berbau islam. Dikarenakan masyarakat kagum dengan kemudahan ajaran islam. Dari tidak adanya sistem kasta, upacara keagamaan yang simpel, adanya akulurasi budaya lama dengan islam secara damai, dan adanya media wayang, tembang dolanan, alat musik berupa gamelan dsb. Perjuangan dakwah mulai diteruskan oleh santri-santri pondok yang telah tamat belajar hingga pelosok-pelosok daerah seperti yang di lakaukan Jaka Tingkir sehingga islam berkembang hingga sampai saat ini.
Menyelisik sejarah masuknya islam ke tanah jawa setidaknya ada empat teori yang populer digunakan yaitu:
1. Teori bahwa islam berasal dari Gujarat India (13M)
Snouck Hurgronje mengemukakakan islam berasal dari Dakka, India pada
abad 13 M.²³ Selain itu, Pijjnapel dan Moquette mengemukakan islam berasal dari Gujarat dan Malabar yang dibawa oleh orang Arab yang tinggal di India. Moquette
menemukakan bukti adanya kesamaan Batu Nisan Maulana Malik Ibrahim dengan batu nisan yang ada di Cambing, India. Fatimi berpendapat adanya kesamaan corak batunisan Malik As-Saleh tahun 1297 dengan batu nisan yang ada di Bengal. Morrison mengemukakan orang islam yang berasal dari pantai Coromandel yang ada di pesisir pantai barat sumatera.
2. Teori bahwa islam berasal dari Persia
Hoessein Djajadiningrat (pencetusnya) yang mengemukakan islam berasal
dari persia. Di Sumatra Utara (Aceh) terdapat perkumpulan orang persia pada abad ke-15M. Marisson mengemukakan adanya pengaruh persia dalam kosa kata
kesastraan Melayu. Memepunyai kesamaan dalam hal kebudayaan. Peringatan 10 Muharram di Sumatra Barat
3. Teori bahwa islam berasal dari Arab
Hamka, Ayzumardi Azra, Arnold itu adalah salah dari beberapa tokohnya.
Disebarkan oleh saudagar muslim arab sebagai mubaligh pada abad ke-7M. ²⁴ Nieman dan De Holander mengemukakan islam berasal dari Hadramaut, Yaman. Adanya bukti makam seorang perempuan bernama Fatimah Binti Maimundi Leran, Jawa Timur yang wafat tanggal 7 Rajab 475 H.
4. Teori bahwa islam berasal dari China
Islam datang ke indonesia di bawa oleh para perantau china. China telah
berhubungan dengan penduduk indonesia jauh sebelum islam dikenal. Menurut
Sumanto Al-Qurtuby dalam bukunya Arus China -Islam–Jawa-bahwa pada masa
dinasti Tang, di daerah Kanton, Zhang Zhao, Quan zouelah terdapat pemuk iman
islam.
Dengan demikian empat pendapat masuknya islam ke tanah jawa bereksplementasi bersifat subjektif (sesuai sudut pandang pribadi) dimana bukti-bukti berupa objek yang kebetulan sama dengan pendapat yang di kemukakan. Setiap pendapat ini memiliki
konsekuensi untuk kita percayai. Misalnya kita percaya islam di bawa masuk oleh Persia, sehingga kita berfikir para ulama yang menyebarkan agama ialah orang syiah. Karena syiah
di terima kemudian berubah menjadi Ahlul Sunnah Wal Jama’ah yang berkembang.
Sedangkan apabila kita percaya islam di bawa masuk oleh Jazirah Arab pada abad ke-7 M, sehingga orang-orang di Nusantara memiliki kedekatan dan berguru ilmu agama dengan para
sahabat nabi hinga pemahan ilmu pun sama walaupun terpisah dengan jarah. Demikian pula, jika kita percaya islam di bawa masuk oleh India, sehingga kita berfikir para ulama yang menyebarkan agama ialah orang Sufi atau setidaknya melihat islam dengan kacamata tasawwuf.
Catatan Kaki
1. Arnold, Thomas W. Sejarah Da’kwah Islam. (Jakarta: Widjaya.1985), Hlm. 318-319
2. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Munculnya Negara-Negara di Nusantara. (Jakarta:
Brantara, 1977), Hlm. 87
3. Saiftullah. Sejarah & Kebudayaan Islam di Asia Tengara. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010) Hlm. 10
4. Ridin Sofwan, Wasid, Mundiri., Islamisasi di Jawa : Penyebaran Islam di Jawa, Menurut Penuturan Serat
Babad, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2004), Hlm. 234
5. Nor Huda, Islam Nusantara : Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia, (Yogjakarta: Ar-Ruzz Media,
2014), Hlm. 46
6. Arnold, Thomas W. Sejarah Da’kwah Islam. (Jakarta: Widjaya.1985), Hlm. 318-319
7. Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Walisongo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2014), Hlm. 5
8. Ridin Sofwan, Islamisasi di Jawa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), Hlm. 9
9. Agus Suroto, Atlas Wali Songo, (Depok: Pustaka Iman, 2017), Hlm. 194
10. Ibid. 210
11. Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010). Hlm.196
12. Tatang Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah untuk Kelas IX Semester 1 dan 2,
(Bandung: CV. Armico, 2009). Hlm. 29
13. Agus Suroto, Atlas Wali Songo, (Depok: Pustaka Iman, 2017), Hlm. 249
14. Ridin Sofwan, Wasid, Mundiri., Islamisasi di Jawa : Penyebaran Islam di Jawa, Menurut Penuturan Serat
Babad, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2004), Hlm. 65
15. Agus Suroto, Atlas Wali Songo, (Depok: Pustaka Iman, 2017), Hlm. 309
16. Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010). Hlm. 308
17. Tatang Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah untuk Kelas IX Semester 1 dan 2,
(Bandung: CV. Armico, 2009). Hlm. 23
18. Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo Misi Pengislaman di Tanah Jawa, (Yogyakarta: Graha Pustaka,
2009). Hlm.130
19. Tatang Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah untuk Kelas IX Semester 1 dan 2,
(Bandung: CV. Armico, 2009). Hlm. 34
20. Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010). Hlm.199
21. Tatang Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah untuk Kelas IX Semester 1 dan 2,
(Bandung: CV. Armico, 2009). Hlm. 34-45
22. Agus Suroto, Atlas Wali Songo, (Depok: Pustaka Iman, 2017), Hlm. 282
23. Arnold, Thomas W. Sejarah Da’kwah Islam. (Jakarta: Widjaya.1985), Hlm. 318-319
24. Ibid, Hlm. 317
Komentar
Posting Komentar