MENGENAL TASAWWUF FILSAFI SPIRITUALISME DALAM DUNIA ISLAMI
Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com
Untuk blog kali ini Rilis_Wahyu.com akan membahas tentang tasawwuf filsafi spiritualisme dalam dunia islami. Dimana penertian dari Tasawuf ialah ilmu yang berorientalisasi pada disiplin moral yang berasas islam. Tasawwuf bertujuan mendekatkan diri dari seorang hamba kepada Sang Penciptanya. Sedangkan Adapun falsafi diambil dari kata filsafat. Kajian filsafat adalah kajian tentang esensi, karena yang menjadi fokus adalah hakikat sesuatu.(1) Secara garis
besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi
mistis dan visi rasional. Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam
pengungkapannya,yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah
mempengaruhi para tokohnya.(2) Jadi tasawuf falsafi adalah tasawuf yang memiliki perbedaan dengan tasawuf akhlaqi atau tasawuf sunni, sehingga ada
kelompok yang menganggap bahwa tasawuf kelompok ini adalah tasawuf yang menyeleweng.
Tasawwuf falsafi yakni tasawwuf yang memadukan antara rasa (dzauq) dan rasio (akal), tasawu bercampur dengan filsafat terutama filsafat Yunani. (3)Tasawuf sunni dan salafi lebih mengedepankan kepada segi praktis, sedangkan tasawuf falsafi lebih mengedepankan kepada segi teoritis, sehingga dalam konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendekatan-pendekatan filosof yang sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam.(4) Menurut At-Taftazani, tasawuf falsafi memiliki ciri umum, diantaranya yaitu tasawuf falsafi adalah ajarannya yang samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memahami ajaran tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi tidak dapat dipandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq) tetapi tidak dapat pula dipandnag sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.(5)
Sedangkan menurut Ibnu Khaldun, ada empat objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosof antara lain sebagai berikut:
1. Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri yang timbul darinya.
2. Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam ghaib seperti sifat-sifat rabbani, Arsy, malaikat, wahyu, kenabian, roh.
3. Peristiwa dalam alam yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk keramatan atau keluarbiasaan.
4. Menciptakan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya dan menyetujuinya.(6)
Membahas tasawwuf dan konsep ilmunya tidak akan lepas dari tokoh-tokoh yang memperkasainya.Tokoh-tokoh tasawwuf atau yang biasa disebut dengan Sufi, beridentik dengan kehidupan sederhana dan ditujukan kepada Allah semata. Dimana kehidupan seorang Sufi sendiri
sudah ada sejak zaman para sahabat Nabi, yakni sejak abad pertama. Dan aliran filsafat filsafi ini mulai muncul pada masa kontemporer atau pada fase Abad 6-9 H dan sesudahnya, dimana para Sufi mencontoh kehidupan para Khalifah dan mulai mengemukakan teori-teori pemikirannya.
TOKOH TASAWWUF FALSAFI DAN PEMIKIRAN TASAWUFNYA
1. Abu Yazid al Busthomi
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan al-Bustami, lahir di daerah Bustam (Persia) tahun 188 H – 261 H/874 – 947 M. Nama kecilnya adalah Thaifur (atau secara singkat dipanggil dengan sebutan Bayazid). Kakeknya bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster (Majusi), kemudian masuk dan memeluk agama Islam di Bustam. Ayahnya salah seorang tokoh masyarakat di Bustam.(7) Keluarga Abu Yazid termasuk keluarga yang berada di daerahnya. Akan tetapi ia lebih memilih hidup sederhana.
Abu al-Busthomi hidup dalam keluarga yang taat beragama. Ibunya seorang yang taat dan zahidah, dua saudaranya Ali dan Adam termasuk sufi meskipun tidak terkenal sebagaimana Abu Yazid. Ibunya secara teratur mengirimnya ke masjid untuk belajar ilmu-ilmu agama.
Sewaktu menginjak usia remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan seorang anak yang patuh mengikuti perintah agama dan berbakti kepada orang tuanya. Perjalanan Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memakan waktu puluhan tahun, sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang sufi. Ia terlebih dahulu telah menjadi seorang fakih dari madzhab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Abu Ali As-Sindi. As-Sindi mengajarkan ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu lainnya kepada Abu Yazid. Namun pada akhirnya kehidupannya berubah dan memasuki dunia tasawuf.Ia adalah seorang zahid yang terkenal. Baginya Zahid itu adalah seseorang yang menyediakan dirinya untuk hidup berdekatan dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fase yaitu Zuhud terhadap dunia, Zuhud terhadap akhirat, Zuhud terhadap selain Allah. Dalam perjalanan kehidupan zuhud, selama 13 tahun, Abu Yazid mengembara di gurun-gurun pasir di syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali.
Pada usia 40 tahun ia mulai kembali ke daerah asalnya dan mulai memberikan pengajaran spiritual kepada para pengikutnya. Banyak namanama sufi yang melakukan kontak dengannya, mulai dari Abu Musa aldyabuli, Ahmad bi Khadruyah, Dhu al-Nun al- Misri, tetapi yang paling menjadi sorotan adalah ketika Abu Yazid berguru pada Abu Ali al-Sindi. Yang mana menurut salah seorang peneliti bahwa faham tentang fana’ ialah berasal dari Abu ali al-Sindi. Kejadian ini pula membuat sejumlah orientalis beranggapan bahwa ajaran Abu Yazid itu terpengaruh oleh ajaran mistikfilsafat Hinduisme India dan teks suci Vedenta-nya, sebab Abu Ali al-Sindi berasala dari kawasan yang amat kental dengan ajaran filasaf kuno tersebut.
Abu Yazid kemudian dikenal sebagai tokoh sufi yang membawa ajaran tasawuf yang berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya. Ajaran yang dibawanya banyak bertentangan dengan para fuqaha sehingga berimplikasi keluar masuk penjara. Sehingga dia mendapat banyak tentangan dan kritikan keras dari para fuqoha. Meskipun ia mendapat kritik yang keras dari kalangan lahiriyah-literalisme, Abu Yazid pada dasarnya adalah seorang sufi yang tekun dalam menjalankan shariah bahkan seperti yang dijelaskan didepan bahwa ia mempelajari fiqih bermadzab Hanafi, berdedikasi moral yang tinggi, dan mengagumi pribadi Nabi Muhammad SAW. Abu Yazid tidak meninggalkan sebuah tulisan, tetapi para pengikutnya yang mengumpulkan ucapan dan ajaran-ajarannya.(8) Dia memiliki banyak pengikut yang menamakan diri Taifur.
Abu Yazid al Busthomi meninggal pada tahun 216H/875M di Bustam dalam usia 73 tahun. Makamnya masih ada dan terawat hingga saat ini. Makammya yang terletak di tengah kota menarik banyak pengunjung dari berbagai tempat.
Ajaran Tasawuf Abu Yazid al Busthomi
Abu Yazid al Busthomi merupakan salah satu di antara generasi pertama kaum sufi yang berperan penting dalam membangun sistematika tasawuf, terutama tasawuf yang bercorak falsafi. Bebarapa ajaran tasawuf falsafi Abu Yazid al Busthomi adalah sebagaimana penjelasan di bawah ini:
a). Al Fana’ dan al Baqa’
Abu Yazid al Bustomi merupakan diantara tokoh sufi pertama yang mengintrodusir konsep al Fana’ dan al Baqa’. Konsep ini merupakan bagian terpenting dalam tasawuf yang diajarkan oleh Abu Yazid al Busthomi. Secara harfiah fana` berarti meninggal dan musnah, dalam kaitan dengan sufi, maka sebutan tersebut biasanya digunakan dengan proposisi: fana`an yang artinya kosong dari segala sesuatu, melupakan atau tidak menyadari sesuatu.(9) Sedangkan Dari segi bahasa kata fana` berasal dari kata bahasa Arab yakni faniya-yafna yang berarti musnah, lenyap, hilang atau hancur.(10) Dalam istilah tasawuf, Fana’ juga dapat diartikan sebagai keadaaan moral yang luhur. Definisi lain seperti dikutip oleh Rosihan Anwar dan M. Solihin, mendefinisikanfana’ sebagai “hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tikdak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaaannya dan dapat memebedakan sesuatu secara sadar, dan ia telah menghilangkan semua kepantingan ketika berbuat sesuatu”. (11) Sedangkan fana` menurut istilah para sufi adalah berarti hilang dan lenyap, sedangkan lawan katanya adalah baqa`, dan lebih jelasnya sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Jawahir, fana` adalah kemampuan seorang hamba memandang bahwa Allah berada pada segala sesuatu. (12)
Jika ditelusuri secara bahasa fana’ berarti hancur, lebur, musnah, lenyap, hilang atau tiada. Sementara baqa’ berarti tetap, kekal, abadi, atau hidup terus (kebalikan dari fana’). Fana’ dan baqa’ merupakan kembar dua dalam arti bahwa adanya fana’ menunjukkan adanya baqa’.(13) Kedua konsep tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dalam aplikasinya, kedua jenis konsep menjadi sebuah kemestian sebab dan akibat. Kedua konsep tersebut dapat dilihat dan dianalisis dari berberapa praktek kaum sufi sebagaimana berikut:
》Jika kejahilan dari seseorang hilang (fana’), yang akan tinggal (baqa’) ialah pengetahuannya.
》Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, yang akan tinggal ialah takwanya.
》Siapa yang menghancurkan sifat-sifat buruk, tinggal baginya sifat-sifat baik.
》Siapa yang meninggalkan sifat-sifatnya, ia akan mempunyai sifat-sifat Tuhan. (14)
Beberapa praktek kesufian diatas menyiratkan bahwa didalam diri sufi, ketika terjadi fana atau hancur dan sesuatu yang lain yang akan muncul yaitu baqa . Seorang sufi yang fana dari kejahilan akan baqailmu dalam dirinya; orang yang fana’ dari maksiat akan baqa’ taqwa dalam dirinya. Dengan demikian, yang tinggal dalam dirinya adalah sifat-sifat yang baik.
Sedangkan konsep baqa`,ditilik dari asal kata baqiya-yabqa-baqa’.. Dalam kamus al-Kautsar, baqa` berarti tetap, tinggal, kekal. (15) Secara etimologi berarti tetap, dan secara terminologi adalah istilah tasawuf yang berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Konteks tasawuf, istilahbaqa` biasanya digunakan dengan proposisi: baqa` bi, yang berarti diisi dengan sesuatu, hidup atau bersama sesuatu.(16) Bisa juga berarti memaafkan segala kesalahan, sehingga yang tersisa adalah kecintaan kepadanya. Fana` dan Baqa` dalam praktek tasawuf falsafi merupakan praktek yang beriringan. Sebagai akibat dari fana` adalah baqa`. Baqa` adalah kekalnya sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya (fana`) sifat-sifat basyariah, maka yang kekal adalah sifat-sifat ilahiah. Para ahli tasawuf menjelaskannya sebagai berikut; apabila nampak nur kebaqa’an, maka fana’lah yang tiada, dan baqa’lah yang kekal. Tasawuf dalam pendangan sufi falsafi ialah fana` dari dirinya dan baqa` dengan Tuhannya. Hal itu dikarenakan karena hati mereka telah bersama Allah.
b). Al- Ittihad
Konsep ittihad ini merupakan efek yang ditimbulkan dari konsep sebelumnya yaitu fana’ dan baqa’ . Ittihad timbul sebagai konsekuensi lanjutan dari pendapat sufi yang berkeyakinan bahwa jiwa manusia adalah pancaran dari Nur Ilahi. Atau dengan kata lain “aku” nya manusia adalah pancaran dari Tuhan.(17) Siapapun yang bisa membebaskan diri dari alam lahiriahnya atau mampu meniadakan kepribadian dari kesadaranya, maka dia akan mendapat jalan menuju sumber yang asal, yaitu cahaya Tuhan.
Abu Yazid al-Bustami dipandang sebagai sufi pertama yang menimbulkan ajaran fana’ dan baqa’ untuk mencapai ittihad dengan Tuhan. Kata Ittihad secara bahasa berasal dari kata ittahada-yattahidu-ittihad yang berarti dua benda menjadi satu. (18) Secara terminoligi tasawuf al-ittihad berarti satu tigkatan dalam tasawuf, yaitu bila seorang sufi merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Tahapan ini adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia melalui tahapan fana` dan baqa`. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik subtansi maupaun perbuatannya.(19)
Al ittihad merupakan tingkatan tasawuf di mana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan: suatu tingkatan di mana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya. Dalam ittihad identitas telah hilang dan identitas menjadi satu.(20) Sufi yang bersangkutan, karena fana’-nya tak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan.
Ada dua tingkat penyatuan (ittihad) yang biasa dibedakan yaitu merasa bersatu dengan tuhan, tetapi tetap menyadari perbedaan dirinya dengan tuhan; inilah ydng disebut tingkat bersatu. Pada tahap selanjutnya adalah kesadaran dari ketiadaan yang bersama-sama dan mistik adalah kesadaran akan adanya Maha Zat yang sangat berbeda. Kaum Sufi memandangnya sebagai tingkat kebersatuan mutlak (Jam`al al-jam`; secara harfiah adalah bersatunya kebersatuan).(21)
2. Suhrawardi al-Maqtul
Suhrawardi dilahirkan pada tahun (549 H/ 1153 M) di Desa Sahraward (Persia Modern).(22) Suhrawardi memiliki faham filsafat illuminasi. Perinsip dan asas pertama bagi filsafat ini ialah bahwa Allah adalah cahaya dan sumber bagi semua makhluk-Nya, maka dari cahaya-Nya terdapat cahaya-cahaya lain yang keluar sebagai cikal-bakal atau pondasi alam semesta ini.(23)
3. Al-Hallaj
Nama lengkapnya adalah Abul Mughith Al-husayn Ibnu Mansur Ibnu Muhammad Al-Baydowi. Al-Hallaj dilahirkan sekitar 244 H/ 858 M. Di Tur, al-Bayda, Iran Tenggara. Penduduk Tur berbahasa Arab dialek Iran. Ayahnya seorang penggaru kapas ditengah perkebunan kapas yang terbentang dari tustar sampai wasit, diatas sungai tigris. Sang ayah sendiri sering bepergian anatara bayda dan wasit, sebuah kota kecil yang menjadi pusat tekstil. Kota kecil tur mayoritas penduduknya menganut mazhab sunni-hambali, sedangkan sebagian kecil lainya menganut mazhab syi’ah ekstrim. Sampai pada usia 12 tahun Al-Hallaj mempelajari al-Quran dengan sepenuh hati sampai menjadi hafidz. Ia pun mempelajari tassawuf dari Sahl Al-Tustari, seorang sufi berpengaruh dan independen, yang mempunyai kedudukan spiritual tinggi dan terkenal karena tafsir Al-Qur’annya.(24)
Al Hallaj meninggal dalam eksekusi “pancung” yang dilakukan oleh penguasa saat itu di Bagdad karena ajarannya dituduh dapat menyesatkan. Pengalaman tasawufnya yang bercorak falsafi menjadi warna tersendiri dalam sejarah tassawuf di dunia Islam.(25)
Ajaran Tasawuf Al Hallaj
a). Hulul
Ajaran yang dikembangkan oleh Al Hallaj dalam tasawuf adalah hulul. Hulul merupakan konsep didalam tasawuf falsafi yang meyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk. Pengertian Hulul secara singkat adalah Tuhan mengambil tempat dalam diri manusia tertentu yang sudah melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana’.(26) Istilah hulul berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat keTuhanan kedalam diri manusia atau masuk suatu dzat kedalam dzat yang lainnya.(27) Konsep hulul mengisyaratkan terjadinya penyatuan antara manusia dengan Tuhannya terjadi didasarkan pada adanya dua potensi dua sifat dasar yang dimiliki manusia. Kedua potensi besar tersebut adalah yaitu sifat nasut (kemanusiaan) dan unsur lahut (ketuhanan). Nasut mengandung tabiat kemanusian baik yang rohani maupun jasmani, dan Tuhan tidak bersatu dengan tabiat ini. Sedangkan lahut adalah sifat ketuhanan, yang mana sifat ini yang dapat menghantarkan manusia kepada Tuhannya.
Ajaran al Hallaj yang lain adalah haqiqah muhammadiyah (nur muhammad merupakan sumber dari segala sesuatu, segala kejadian, amal perbuatan dan ilmu pengetahuan, dengan perantaranyalah alam ini dijadikan Ajarannya yang lain juga adalah wahdah al adyan (hakikatnya semua agama adalah satu, karena semua mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu mengakui dan menyembah Alloh. Adanya berbagai macam agama, semuanya hanyalahperbedaan nama, namun hakikatnya sama). Ajaran – ajaaran tersebut mendapat tantangan dari para ulama sehingga ia dijatuhi hukuman mati pada hari selasa, 24 zulkaedah 309 H.
4. Ibn Araby
Nama lengkapnya Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Beliau biasa dipanggil dengan nama Abu Bakar, Abu Muhammad, dan Abu Abdullah. Namun beliau terkenal dengan gelar Ibnu ‘Araby Muhyiddin dan al Hatami. Ia juga mendapat gelar sebagai Syaikhul Akbar dan Sang Kibritul Ahmar. Beliau lahir pada 17 Ramadhan 560 H / 29 Juli 1165 M di kota Marsia, yaitu ibukota Andalusia Timur. Ibnu ‘Araby tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi. Ayahnya tergolong seorang ahli zuhud yang sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme serta menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada anak-anaknya, tak terkecuali Ibnu ‘Araby.
Pada tahun 568 H, keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia. Perpindahan inilah yang menjadi awal sejarah perubahan kehidupan intelektualisme Ibnu ’Araby, yakni kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih, dan sastra. Karena itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja sebagai ahli dan pakar ilmu-ilmu islam, tetapi juga ahli dalam bidang astrologi dan kosmologi. Meski Ibnu ‘Araby belajar pada banyak ulama’, seperti Abu Bakar bin Muhammad bin Khalaf al Lakhmi, Abul Qosim asy Syarroth, dan Ahmad bin Abi Hamzah, Ali bin Muhammad Ibn al Haq al Isybili, Ibnu Zarqun al Anshori, dan Abdul Mun’im al Khazraji, serta belajar hadits madzhab Imam Malik dan Ibnu Hazm adz Dzahiry (seorang faqih yang terkenal di Andalusia),(28) namun beliau sama sekali tidak bertaklid sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang.
Ibnu al Araby tinggal di Hizaj dan meninggal pada tahun 638H. Di Sevilla (Spanyol) Ia mempelajari Al-Qur’an, Hadits serta fiqih pada sejumlah murid seorang faqih Andalusia yakni Ibn Hazm Az-Zuhri. Di usiannya 30 Ibn Arabi berkelana ke berbagai kawasan Andalusia dan kawasan Islam bagian Barat dan berguru kepada Abu Madyan, Al-Ghauts At_Talimsari dan Yasmin Musyaniyah (seorang wali dari kalangan perempuan). Kemudian ia bertemu juga dengan Ibn Rusyd, filosof muslim dan tabib istana dinasti Barbar dari Alomond, di Kordova.(29)
Ibnu al-Arabi merupakan seorang sufi yang terkemuka, sangat sedikit sekali tokoh-tokoh spiritual muslim yang begitu terkenalnya hingga sampai ke wilayah Barat sebagaimana yang dicapai oleh Ibnu al-Arabi. Dalam dunia islam sendiri, tampaknya tidak ada seorang tokoh pun yang begitu memiliki pegaruh yang begitu luas dan begitu dalam terhadap kehidupan intelektual masyarakatnya dalam kurun waktu lebih dari 700 tahun.(30)
Ibn al Araby selain terkenal sebagai tokoh sufi falsafi yang masyhur, beliau juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif, jumlah buku yang telah dikarangnya menurut perhitungan sejarahwan mencapai lebih dai 200 buku, di antaranya ada yang berupa 10 halaman, tetapi ada pula yng berupa ensiklopedia tentang sufisme seperti Futuhah al-Makkah yang ditulis pada tahun 1201 tatkala ia sedang menunaikan ibadah haji. Karya lainnya adalah Tarjuman Al-Asywaq yang ditulisnya untuk mengenang kecantikan, ketaqwaan dan kepintaran seorang gadis cantik dari keluarga seorang sufi dari Persia.(31) Karya lainnya diantaranya adalah Kimiya As-Sa’adat, Muhadharat Al-Abrar, Kitab A l-Akhlaq, Majmu’ Ar-Rasa’il, Al-Ilahiyyah, Mawaqi’ AnNujum, Al-Jam’ wa At-Tafsishil fi Haqa’iq At-Tanzil, Al-Ma’rifah dan AlIsra’ila Maqam Al-Atsana.(32)
Perjalanan intelektual-spiritual Ibnu ‘Araby dipengaruhi oleh pergulatan tradisi yang melingkupi zaman dan lingkungannya. Mulai dari tradisi Timur, Hellenistik, Persia, India, Yunani, Kristen, hingga tradisi Yahudi. Tak heran, bila pemikirannya bersifat eklektis dan filosofis.
Ajaran Tasawuf Ibn al Araby
a). Wahdat al-Wujud
Konsep ajaran Wahdat al-wujud merupakan ajaran utama dan sentrak dari konsep tasawuf Ibn Al-Araby. Wahdat al Wujud merupakan istilah yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat secara bahasa artinya sendiri, tunggal, dan kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada.(33) Dengan demikian wahdat al-wujud mempunyai arti kesatuan wujud. Kata wahdat selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Sebagian ulama’ terdahulu mengartikan wahdat sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi lagi. Selain itu kata wahdat menurut ahli filasafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara roh dengan materinya, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang lahir dan yang bathin.(34)
Walaupun istilah wahdat al-wujud merupakan ajaran yang dibawa oleh Ibnu Arabi, tetapi istilah wahdat al-wujud yang dipakai untuk menyebut ajarannya itu bukanlah berasal dari dia, melainkan dari Ibnu Taimiyah, seorang tokoh sufi yang terkenal paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran Ibnu Arabi.
Ibn al Arabi menyatakan bahwa wujud yang ada semua ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik juga, tidak ada perbedaan antara keduanya (makhluk dan khalik) jika dilihat dari segi hakikat.(35) Paham ini merujuk kepada timbulnya paham yang menyatakan bahwa antar makhluk (manusia) dan al-haqq (Tuhan) sebenarnya satu kesatuan dari wujud tuhan. Dan yang sebenarnya ada adalah wujud Tuhan itu, sedangkan wujud makhluk hanyalah bayangan dari khaliq. Landasan paham ini dibangun berdasarkan pemikiran bahwa Allah SWT sebagai yang diterangkan dalam al-hulul yang berarti yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa Tuhan dapat mengambil tempat pada diri manusia. Bahwasannya di dalam alam dan diri manusia terdapat sifat-sifat tuhan, dan dari sinilah timbul paham kesatuan. Paham wahdat al-wujud ini juga mengatakan bahwa yang ada di dalam alam ini pada dasarnya satu, yaitu satu keberadaan yang hakiki yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.
Penjelasan tentang paham wahdat al wujud terkesan menyatukan wujud tuhan dengan wujud alam yang dalam istilah Barat disebut Panteisme. Panteisme didefinisikan oleh Henry C.Theissen, sebagaimana dikutip Kautsar Azhari Noer, seperti berikut: “Panteisme adalah teori yang berpendapat bahwa segala sesuatu yang terbatas adalah aspek modifikasi atau bagian belaka dari satu wujud yang kekal dan ada denag natural (alam). Tuhan adalah semuanya, semuanya adalah Tuhan. Ia muncul dalam berbagai bentuk masa kini yang di antaranya mempunyai pula unsur-unsur atestik, politestik, dan teistik.”(36)
Padahal kalau ditelusuri lebih dalam bahwasannya konsep Wahdatul Wujud menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang mempunyai wujud yang hakiki atau mutlak kecuali Allah. Wujud Mutlak adalah wujud yang keberadaannya independen (tidak bergantung pada apapun), tidak berawal, tidak membutuhkan wujud lain untuk membuatNya berawal (karena Dia memang tidak berawal). Adanya Wujud Mutlak ini ialah keniscayaan bagi keberadaan wujud-wujud lain yang berawal. Alam semesta dan segala sesuatu selain Allah adalah wujud yang tidak hakiki, karena keberadaannya tergantung kepada Wujud Mutlak.
Harus dipahami bahwa paham Ibnu ‘Araby ini tidak menyamakan segala sesuatu yang tampak sebagai bukan Allah itu dengan Allah. Sebab jika kita misalnya mengatakan bahwa manusia adalah Allah dan Allah adalah manusia, maka kita akan jelas-jelas terjebak ke dalam Pantheisme. Menurut Ibnu ‘Araby, keterbatasan persepsi manusia telah gagal untuk melihat kaitan intregal antara keberadaan selain Allah dengan keberadaan Allah sendiri.
Dari beberapa penjelasan diatas nampak jelas ada perbedaan yang sangat mendasar antara wahdatul wujud dengan Pantheisme. Pantheismemenganggap bahwa wujud Tuhan itu bersatu dengan wujud makhluk, sedangkan wahdatul wujud menganggap bahwa wujud Tuhan itu terpisah dari wujud makhluk. Jadi, bagi penganut Pantheisme, wujud Tuhan itu tidak ada, karena Tuhan adalah alam, dan alam adalah Tuhan. Jelas dari sisi logika maupun dalil kepercayaan Pantheisme ini adalah sesat.
My Refleksi
Sebagai generasi muda muslim kita jangan tertingal baik dari segi pengetahuan (hati/perasaan dan rasional) dan daya produktifitas untuk menciptakan sesuatu, namun jangan sampai meninggalkan sisi spritualisme dalam kehidupan sehari-hari sebagai muslim. dimana yang dimaksud dengan Tasawwuf falsafi yakni tasawwuf yang memadukan antara rasa (dzauq) dan rasio (akal), tasawu bercampur dengan filsafat terutama filsafat Yunani. Pada dasarnya ilmu tasawwuf mengajarkan suatu metode disiplin untuk mendekatkan diri atau ber-taqarrub kepada Sang Pencipta. Dimana tasawwuf sudah mengalami perubahan dari masa ke masa patut kita pelajari, filter, dan mengambil hikmahnya. Karena sebagai bentuk mempersiapkan diri menuju kehidupan yang hakiki. Sebagai penghargaan patutlah kita mengingat jasa-jasa para tokoh tasawwuf filsafi dari setiap masa ke masa. Sebab keilmuanya dan adabnya kita bisa mencontoh secara kongrit sehingga kita bisa lebih mudah mengamalkan setiap perintah Allah dan menjauhi larangannya yang adanya singkronisasi dari rasa dan rasio. Maka dari itu, mari kita doakan para tohoh tasawwuf filsafi dimuliakan disisi-Nya, segala ilmu jariahnya terus mengalir, ilmu-ilmunya bisa kita teruskan, diamalkan, dan dikembangkan untuk maju dari masa ke masa.
Fitrah dari jiwa itu candramawa.
Disana tersimpan hitam dan putih jiwa.
Tuhan menganugrahkan manusia dengan segala kesempurnaannya.
Namun dengan kesempurnaan itu terkadang hatinya bisa secacat-cacatnya.
Maka tak hayal bila dikehidupan ini bayak aku jumpai mahluk bak iblis tapi berhati malaikat dan lebih banyak lagi aku jumpai mahluk yang menyerupai malaikat namun berhati iblis.
@Rilis_Wahyu.
Sekian blog kali ini, thanks buat sahabat baca...sukses selalu
Referensi:
1. Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat (Jakarta: Kencana, 2014), h. 8.
2. M. Sobirin dan Rosihan Anwar, Kamus Tasawuf (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2000), h. 224.
3. Eep S. Nurdin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Bandung: Aslan Grafika Solution, 2020), h. 19.
4. Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 33.
5. Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 278.
6. Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 34.
7. Anwar dan Solihin, Ilmu Tasawuf, (Bandung: Pustaka Satia, 2000), Hlm. 136.
8. Aboebakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi&Tasawuf. (Solo: Ramadhani, 1984), Hlm. 259.
9. Muhammad Abd. Haq Ansari, Merajut Tradisi Syari`ah dengan Sufisme, Cet. I (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 1997), Hal. 47.
10. Husin al-Habsyi, Kamus al-Kautsar (Arab – Indonesia), (Surabaya: Darussagaf P.P. Alawy, 1997), Hal. 362.
11. Rosihan Anwar, Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, Cet. II (Bandung: Pustaka Setia, 2004), Hal. 130.
12. Oman fathurrahman, Tanbih al-Masyi; menyoal wahdatul wujud kasus Abdurrauf singkel di Aceh Abad 17, (Cet. I, Mizan; Jakarta, 1999), Hal. 74-75.
13. Asmaran AS, Pengantar Studi Tasawuf, ( Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1994), Hlm. 152.
14. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), Hal. 80.
15. Husin al-Habsyi, Kamus al-Kautsar, (Arab – Indonesia), Hal. 26.
16. Muhammad Abd. Haq Ansari, Merajut Tradisi Syari`ah dengan Sufisme , Hal. 47.
17. Asmaran AS, Pengantar Studi Tasawuf, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), Hal. 158.
18. Husin al-Habsyi, Kamus al-Kautsar, (Arab – Indonesia), Hal. 581.
19. Rosihan Anwar, Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, Hal. 133.
20. Ibid, Hlm. 133.
21. Muhammad Abd. Haq Ansari, Merajut Tradisi Syari`ah dengan Sufisme , Hal. 52
22. Seyyed Husain Nasr, Filsafat Islam, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2006), Hlm. 103.
23. Panuti Sudjiman, Filsafat Islam: Modern dan Penerapan, (Jakarta: Raja Grafindo Prada, 1991), Hlm. 59.
24. Louis, Massignon, Diwan Al-Hallaj, Cetakan Ke-dua (Putra Langit:Yogyakarta, 2003), Hal. 7.
25. Ibid, Hlm. 7.
26. A.Qadir Mahmud, Al-Falsafah Al-Sufiyah Fi Al-Islam, (Cairo: Dar Al Fikr Al Arabi,1966), Hal. 337.
27. Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,1994), Hal. 303-316.
28. Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad Far’i Ustmani, (Bandung: Pustaka, 1985), Hal. 193.
29. Annemarie Schimmel, Mystical Dimension of Islam, terj. Supardi Djoko Damono, (Pustaka Firdaus, 1975), Hal 272.
30. William C. Chittick. Sufi path of knowledge: Pengetahuan Spiritual Ibnu AlAraby, ce. I, (Yogyakarta: Qalam,2001), Hal. 4.
31. Ibrahim Hilal, at-Tashawwuf al-Islami baina ad-Din wa al-Falasifah (Tasawuf antara Agama dan Filsafat) terj. Ija Suntana & E. Kusdian, cet. I (Bandung: Pustaka Hidayah. 2002), Hal. 187.
32. Maolavi S.A.Q. Husaini, Ibn Al-arabi, (Lahore: Muhamad Ashraf, t.t.), Hal 34-36.
33. Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), Hal. 247.
34. Ibid, 247.
35. Moh. Toriquddin, Sekularitas Tasawuf, Memumikan Tasawuf dalam Dunia Modern, (Malang: UIN-Malang Press.2008), Hal. 175.
36. Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-Arabi Wahdaat Al-Wujud Dalam Perdebatan, (Jakarta: Paramadina, 1995), Hal. 162.
@Rilis_Wahyu
#rilisyanglagirindu
#jangankautanyasiapakarnaakupuntaktau;'(
Komentar
Posting Komentar