PERJALANAN PERKEMBANGAN TASAWWUF DARI MASA KE MASA

Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com

Kali ini di blog Rilis_Wahyu akan bahas tentang perjalanan tasawwuf dari masa ke masa. Dimana agama islam mewajibkan kebersihan lahiriah dan batiniah, seperti ungkapan “kebersihan merupakan sebagian dari iman”. Bisa dilihat dari keterkaitan antara niat dengan praktek peribadatan seperti wudhu, sholat, dan ritual lainnya. Dimana Tasawwuf  menjadi salah satu bidang kajian dalam islam yang berpusat pada pembersihan batiniah yang menimbulkan dorongan dan motivasi membentuk akhlak terpuji. Sejak awal ilmu tasawwuf tidak bisa dilepaskan dari tazkiyah al-nafs (penjernihan jiwa). Dimana upaya ini diteorisasikan dalam tahap-tahap pengendalian dan disiplin-disiplin dari suatu tahap ke tahab berikutnya sehingga sampai ke tahap maqam (spritualitas yang diistilahkan oleh sufi) sebagai syuhud (persaksian), wajd (perjumpaan), atau fana’ (peniadaan diri). Dengan hati jernih, dari pandangan sufistik seseorang yang diberi kepercayaan akan bisa mengikhlaskan amalan ibadahnya dan menjaga perilaku sehari-hari karena kedekatannya dengan Allah SWT yang selalu mengawasi dari segala perbuatannya. Secara sederhana tasawwuf  diartikan sebagai proses menyucikan jiwa dalam bentuk pendekatan diri pada Sang Pencipta sehingga kehadiran-Nya selau dirasakan secara sadar dalam kehidupan. Tasawwuf yang dilakukan oleh para sahabat bukan yang berpola pada kasyf al-hijab (penyingkapan tabir Tuhan dengan manusia) atau hal-hal yang dilakukan oleh sufi di masa sekarang. Corak yang ditonjolkan adalah ittiba’ dan iqtida’ (kesetiaan meneladani) perilaku hidup nabi. Islam mengajarkan kita untuk bertakwa, qana’ah, keutamaan akhlak dan juga keadilan, tapi tidak mengajarkan hidup kerahiban, pertapaan atau uzlah sebagaimana akrab dalam tradisi mistisime agama-agama lainnya. 

Mulanya tasawwuf di masa Nabi Muhammad SAW. Tasawwuf di masa itu adalah sesuatu realitas tanpa nama. Dimana pola hidup Nabi saw sebagai sesuatu yang diyakini yang menjadi cikal bakal tumbuhnya tasawwuf. Seluruh pola hidup Rasulullah saw menjadi tuntunan seperti yang dilakukan oleh para sufi. Contohnya cara hidup sederhana, zuhud, tawadhu’ , menfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah SWT., dan lain sebagainnya.

Kemudian Tasawwuf di masa khulafaur-rasyidin. Dimana para sahabat merupakan murid langsung Nabi saw. Yang dalam segala perbuatan dan ucapan mereka jelas senantiasa mengikuti tatacara kehidupan Nabi saw. Dimana masa ini disebut masa kehidupan empat sahabat besar Nabi saw, yaitu Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Selain mengacu pada kehidupan keempat khalifah, para ahli sufi juga merujuk pada kehidupan para “ahlus suffah” yaitu para sahabat Nabi saw. Yang tinggal di masjid Nabawi, Madinah dalam keadaan serba miskin namun senantiasa teguh dalam memegang akhlak dan selalu mendepankan diri kepada Allah SWT.

Ketiga, tasawwuf di masa abad 1-2 Hijriyyah (Fase Asketisme atau Zuhud). Dimana sikap zuhud ini dipandang sebagai pengantar kemunculan tasawwuf. Pada fase ini terdapat individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya kepada ibadah dan tidak mementingkan makan, pakaian, maupun tempat tinggal. Sekelompok kaum muslim memusatkan perhatian hanyalah pada pelaksanaan ibadah untuk mengejar keuntungan akhiratnya. Pada paruh abad ke-2 H, istilah sufi sudah mulai digunakan, salah satunya oleh Hasan al-Basri.

Ke empat, tasawwuf dimasa abad 3-4 Hijriyyah. Para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku tasawwuf, juga berkembang menjadi ilmu moral keagamaan atau ilmu akhlak keagamaan. Tasawwuf menjadi sebuah disiplin ilmu tentang kebatinan yang mulai memperhatikan sisi-sisi teoritis psikologis dalam rangka perbaikan tingkah laku, sehingga tasawwuf menjadi sebuah metode yang ditujukan untuk perbaikan akhlak. Pada abat ke-3 dan ke-4 muncul tokoh-tokoh tasawwuf seperti al-junaid dan sari al-saqathi serta al-kharraz yang memberikan pengajaran dan pendidikan kepada para murid dalam sebuah bentuk jamaah. Abat ini juga ditandai dengan bercampurnya tasawwuf dengan filsafat menjadikan tasawwuf sukar dipahami, dengan munculnya istilah-istilah, seperti : fana’ , ittihad, hulul dan lain-lain.

Ke lima, tasawwuf di masa abad 5 Hijriyyah. Memasuki abad ke-5 H tasawwuf filsafat mulai mengalami kemunduran yang luar biasa. Sementara tasawwuf sunni mengalami kemajuan yang pesat, di tandai dengan munculnya tokoh-tokoh tasawwuf sunni seperti : abu ismail abdullah bin Muhammad al-ansari al—harawi (396-481 H). Puncak kecermerlangan tasawwuf sunni ini adalah pada masa al-ghazali, yang karena keluasan ilmu dan kedudukannya yang tinggi, hingga ia mendapatkan suatu gelar kehormatan sebagai “hujjatul islam”.

Ke enam, tasawwuf di masa 6-7 Hijriyyah. Muncul beberapa aliran tasawwuf amali, yang ditandai lahirnya beberapa tokoh tarikat besar seperti syaikh abdul qadir al-jailani di bagdad (470-561 H), ahmad bin ali abul abbas ar-Rifa’i di irak (wafat 5708 H). Mulai berkembang tarekat, yakni sebuah madrasah yang bertujuan untuk membimbing calon sufi menuju pengalaman ilahi melalui teknik zikir tertentu dengan menghadirkan guru dengan masing tarekat tersebut. Memasuki abad ke-7 diaman tasawwuf filsafat mengalami kemajuan kembali yang dimunculkan oleh tokoh terkenal yakni ibnu arabi. Ibnu arabi telah berhasil menemukan teori baru dalam bidang tasawwuf filsafat yakni tentang “wadahtul wujud”, yang banyak diikuti oleh tokoh-tokoh lainnya seperti ibnu sab’in, jalaluddin ar-rumi, dan sebagainya. Sesudah abad ke-7 ini tidak ada lagi tokoh-tokoh besar yang membawa ide tersendiri dalam hal pengetahuan tasawwuf, jikapun ada itu hanyalah sebagai seorang pengembang ide-ide para tokoh pendahulunya.

Ke tujuh, tasawwuf di masa moderen (tasawwuf modern/noe-sufism). Tasawwuf moder adalah penghayatan keagamaan esoteris yang mendalam tetapi tidak degan serta merta melakukan pengasingan diri (uzlah). Munculnya pemikiran noe-sufism tidak luput dari adanya kebangkitan agama yang menolak terhadap kepercayaan yang berlebihan kepada sains dan teknologi selaku produk era modernisme. noe-sufism menekankan perlunya keterlibatan diri dalam masyarakat secara lebih daripada sufism terdahulu. Pemahaman ini bisa memberi bukti konkrit ketika melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kota saat ini. Terdapat lembaga-lembaga tasawwuf yang tidak memiliki akar langsung kepada tarekat dan digelar massal juga komersial. Sekedarnya dengan contoh “Indonesian islamic media network (ImaN), kelompok kajian islam paradikma, yayasan takia, tasuf islamic centre indonesia (TICI).


My Refleksi
Pada masa Nabi Muhammad saw memang belum terdapat tasawwuf, namun sikap perangainya serta daripada sahabat telah menunjukkan sifat tasawwuf. Tasawuf muncul berakibat terjadinya ketidakselarasan kondisi sosial politik pada masa setelah sahabat yang jauh dari nilai-nilai seperti masa rasul saw dan sahabat untuk kembali ke jalan islam yang lurus dengan jalan pendekatan diri kepada-Nya.

Adapun faktor munculnya tasawwuf yaitu adanya reaksi atas kecenderungan hidup hedonis yang mengumbar syahwat, perkembangan teknologi yang cenderung mengedepankan rasio dan kering dari aspek moral-spiritual, katalisator yang sejuk dari realitas umat yang secara politis maupun teknologis di dominasi oleh nalar kekerasan, perang politik yang saling mengorbankan satu dengan yang lainnya. Karena faktor itu sebagian ulama memilih menarik diri dari pergulatan yang mengatasnamakan agama dengan praktek-praktek kedaerahannya. Pola hidup rasulullah saw dan para sahabatnya tidak berdasarkan pada aspek materil, yang bersiwat duniawi. Misalnya mereka tetap mencari materi namun bertumpu pada nilai-nilai ibadah dan syariah, sebagai contoh mencari kekayaan dengan memperhatika aturan syariat karena mencari ridho Ilahiyah. Akhlak mereka sangatlah tinggi, tunduk, patuh kepada Allah Swt, tawadhu’ (rendah diri), ibarat “padi yang semakin berisi makin merunduk”. Adapun akhlak kharimah Nabi dan para sahabatnya yaitu hidup zuhud (tidak mementingkan duniawi), hidup qanaah (menerima dengan ikhlas), hidup tauhid (menjalankan segala perintahnya dan menjahui larangan-Nya), hidup istiqomah (taat ibadah), hidup mahabbah (sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, melebihi cinta kepada diri sendiri dan mahluk lainnya), dan hidup ubudiah (mengabdikan diri kepada Allah).

“kejelekan di mataku adalah keindahan di mata-Mu”
Sekelam apapun masa lalumu, sebanyak apapun noda yang membandal. Kamu tetap manusia bukan manusia sampah dan kamu berhak dimanusiakan oleh manusia. Karena sehebat apa pun seseorang pasti punya masa kelamnya sendiri. Maka percayalah Tuhan akan menopang bahumu dan memberi kekuatan serta semangat untuk melanjutkan hidupmu.
@rilis_wahyu

Mungkin itu di blogku kali ini, thanks buat sahabat baca...sukses selalu

@Rilis_wahyu
#rilisyanglagirindu
#jangankautanyasiapakarnaakupuntaktau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Penilaian Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di MI

Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Dan Indikator Pembelajaran Mata Pelajaran Aqidah Akhlak MTs

MENGENAL TOKOH-TOKOH TASAWWUF MASA KLASIK, ABAD PERTENGAHAN, MODERN DAN KONTEMPORER.