MAQOMAT DALAM TASWUF : TAWAKAL DAN MAHABBAH
Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com
Untuk kali ini Rilis_Wahyu.com akan bahas tentang tasawwuf yang menjadi proses meraih mah’rifat Tuhan dengan jalan maqomat tawakal dan mahabbah. Diaman pengertian dari maqomat dari segi etimologi yang berasal dari bahasa arab yang berasal dari jamak maqam berarti tempat orang yang berdiri atau pangkal mulia. Maka dapat diartikan bawasannya para sufi harus melakukan suatu perjalanan yang panjang untuk dekat dengan Allah SWT. Sedangkan maqomat dalam bahasa inggris di kenal dengan stages berarti tangga. Sedangkan tasawwuf merupakan salah satu ajaran dalam islam yang menitik beratkan pada kerohanian seorang hamba atau manusia, yang dimana fitrah dari manusia bisa menjadi hamba yang memiliki perilaku yang mulia. Dangan jalan tasawwuf seorang hamba bisa tau tata cara pembersihan diri dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta dengan jalan yang baik dan benar.
Tawakkal bermakna berserah diri. Tawakkal dalam tasawuf dijadikan washilah untuk memalingkan dan menyucikan hati manusia, agar tidak terikat dan tidak ingin memikirkan keduniaan serta apa saja selain Allah swt. Pada dasarnya makna tawakal dalam dunia tasawuf berbeda dengan konsep agama. Tawakkal menurut para sufi bersifat fatalis atau majbur yakni menggantungan segala sesuatu pada takdir dan kehendak Allah SWT.[1] Menurut Rabi’ah Aladawiyah yang selalu mengabdikan hidupnya dengan sholat dan berdzikir sepanjang malam yaitu mahabbah atau cinta dan rindu kepada illahi mempunyai dua bentuk, yaitu cinta rindu dan cinta karena ia layak dicintai.[2]
A. Pengertian Maqomat Dalam Dunia Tasawuf
Maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang secara bahasa berarti pangkat atau derajat. Dalam bahasa Inggris, maqamat disebut dengan istilah stations atau stages. Sementara menurut istilah ilmu tasawuf, maqamat adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh dengan melalui peribadatan, mujahadat dan lain-lain, latihan spritual serta (berhubungan) yang tidak putus-putusnya dengan Allah swt. atau secara teknis maqamat juga berarti aktivitas dan usaha maksimal seorang sufi untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kedudukannya (maqam) di hadapan Allah swt. dengan amalan-amalan tertentu sampai adanya petunjuk untuk mengubah pada konsentrasi terhadap amalan tertentu lainnya, yang diyaini sebagai amalan yang lebih tinggi nilai spirituanya di hadapan Allah swt.
Dalam rangka meraih derajat kesempurnaan, seorang sufi dituntut untuk melampaui tahapan-tahapan spiritual, memiliki suatu konsepsi tentang jalan (tharikat) menuju Allah swt.jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniah (riyadhah) lalu secara bertahap menempuh berbagai fase yang dalam tradisi tasawuf dikenal dengan maqam (tingkatan).
Perjalanan menuju Allah swt. merupakan metode pengenalan (makrifat) secara rasa (rohaniah) yang benar terhadap Allah swt. Manusia tidak akan mengetahui penciptanya selama belum melakukan perjalanan menuju Allah swt. Walaupun ia adalah orang yang beriman secara aqliyah. Sebab, ada perbedaan yang dalam antara iman secara aqliyah atau logis- teoritis (al-iman al-aqli an-nazhari) dan iman secara rasa (al-iman asy-syu’ri adz-dzauqi).
Tingakatan (maqam) adalah tingkatan seorang hamba di hadapan Allah tidak lain merupakan kualitas kejiwaan yang bersifat tetap, inilah yang membedakan dengan keaadaan spiritual (hal) yang bersifat sementara. Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa maqam dijalani seorang salik melalui usaha yang sungguh-sungguh, sejumlah kewajiban yang harus ditempuh untuk jangka waktu tertentu.
B. Pengertian Tawakal Dan Mahabbah
1. Pengertian Tawakal
Kata “penyerahan diri sepenuhnya kepada allah” dalam bahasa agama disebut tawakal. Tawakal merupakan tempat persinggahan serta tempat ketergantungan kita terhadap Allah swt. Tawakal mempunyai kebergantungan secara khusus dengan keumuman perbuatan dari sifat-sifat allah swt. Semua sifat allah swt dijadikan gantungan tawakal. Maka siapa yang lebih banyak ma’rifatnya tentang Allah swt, maka tawakalnya juga lebih kuat. Tawakal yaitu menyerahkan keputusan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada allah swt. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tawakal adalah penyerahan segala perkara, ikhtiar, dan usaha yang dilakukan kepada Allah swt serta berserah diri sepenuhnya kepada-NYA untuk mendapatkan kemashlahatan atau menolak kemudhorotan.
Orang yang tawakal akan mampu menerima dengan sabar segala macam cobaan dan musibah. Berbagai musibah dab malapetaka yang melanda indonesia telah dirasakan masyarakat. Bagi orang yang tawakal maka mereka rela menerima kenyataan pahit, sementara yang menolak dan atau tidak tawakal, ia gelisah dan protes denga nasibnya yang kurang baik. Tawakal diharuskan ketika keadaan di luar kemampuan manusia untuk merubahnya dan tidak diharuskan tawakal semasih ada kemungkinan dan kemampuan untuk mengubahnya. Orang-orang yang pasrah dan tidak berusaha, hanya semata-mata mendakwa bertawakal kepada allah swt adalah orang-orang yang dusta. Seseorang yang bertawakal hatinya menjadi tenteram, karena yakin akan keadilan dan rahmat-NYA. Oleh karena itu, islam menetapkan iman harus diikuti dengan sifat tawakal.
Menurut Quraish Shibah, tawakal bukan berarti penyerahan mutlak kepada allah swt, tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusiawi. Menurut M. Yunan Nasution apabila segala ihktiar sudah dilakukan, barulah berserah diri kepada allah swt, dan tawakal itu pun tidak boleh secara total menghentikan usaha atau ikhtiar.
2. Pengertian Mahabbah
Secara bahasa cinta atau mahabbah dalam bahasa latin mempunyai istilah amor dan caritas. Dalam istilah Yunani disebut juga phillia, eros, dan egape. Phillia mempunyai konotasi cinta yang terdapat dalam persahabatn, sedangkan amor dan eros ialah jenis cinta berdasarkan keinginginan. Kemudian caritas dan egape merupakan tipe cinta yang lebih tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri. Konsep cinta merupakan subjek meditasi filosofis yang berkaitan dengan masalah-masalah etis. Ia sebagai salah satu dorongan manusia yang paling kuat. Cinta atau yang dikenal bahasa arabnya yaitu mahabbah berasal dari kata Ahabbah-Yuhibbu-Mahabbatan, yang berarti mencintai secara mendalam. Dalam al-mu’jam al falsafi , jamil shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari benci. Kemudian juga pula dapat diartikan al-wadud yang berarti sangat kasih atau sayang. Kemudian ada yang berpendapat kata mahabbah diambil dari kata “hub” uang berarti empat batang kayu yang digunakan untuk meletakkan bejana atau wadah lainya. Hal itu menggambarkan bahwa seorang pecinta selalu siap memikul beban apapun demi kekasih. Jadi, orang yang mencintai Allah swt akan taat kepada perintah-NYA dan menjauhi laranga-NYA.
Secara istilah mahabbbah terdapat perbedaan menurut kalangan sufi, karena persepsi mereka ungkapkan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka. Pendapat kaum Teologi yang diberikan kepada manusia, kemudian keinginan manusia ingin menyatu dengan tuhan juga perasaan berbakti dan bersahabat seseorang kepada lainya. Pengertian tersebut bersifat umum sebagaimana yang dipahami masyarakat bahwa ada cinta Tuhan kepada manusia dan sebaliknya, ada mahabbah manusia kepadanya dan sesama.
Dengan hidup berdasarkan cinta membuat tidak tersisa ruang sedikit pun untuk mengalirkan perasaan benci dan dendam kepada makhluk-makhluk tuhan, utamanya manusia. Cinta kepada allah membuat mata batin menusia untuk melihat berbagai kelemahan orang lain. Dengan cinta itu, ia meletakkan hubungan antar manusia dalam sebuah arus besar menuju Tuhan. Hal itu pula yang membawa mereka hidup delam sebuah harmoni kemanusiaan yang erat, jauh dari konflik, terbuka, dan dialogis.
C. Dalil Tawakal Dan Mahabbah
1. Dalil Al-Qur’an dan Hadist yang menjelaskan tentang tawakal (Al- Tawakkal)
a. Al- Qur’an
Al-Ghazali menyebutkan dalil-dalil kewajiban dan keutamaan tawakal kitab ihya’ ‘ulum al-Din. Di antaranya adalah :
a). Q.S. Al-Maidah/5:23
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْن
Artinya : Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, "Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman."
b). Q.S. Ibrahim/14:12
وَمَا لَنَآ اَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّٰهِ وَقَدْ هَدٰىنَا سُبُلَنَاۗ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلٰى مَآ اٰذَيْتُمُوْنَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ
Artinya : Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri."
c). Q.S. Ali-Imran/3:159.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Artinya : Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
b. Hadist
Dalam Sunan al-Turmudzi, disebutkan: Artinya : “Dari ‘Umar ibn al-Khaththab, ia berkata bahwa Rasulullah Saw. berkata sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, pasti Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada Burung, pagi hari pergi dalam keadaan lapar dan sore hari pulang dalam keadaan kenyang.”
2. Dalil Al-Qur’an dan Hadist yang menjelaskan tentang Cinta (Al-Mahabbal)
a. Al- Qur’an
1). Surat Ali Imran ayat 31 :
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya : Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
2). Q.S.al- shaff 61:4
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ
Artinya : Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
b. Hadist
1). Hadits Riwayat Abu Hurairah r. a :
Artinya : “ Barangsiapa yang senang bertemu kepada Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Barangsiapa yang tidak senang bertemu Allah, maka Allah pun juga tidak senang bertemu dengannya”. ( HR. Bukhori)
2). Hadits Riwayat Anas bin Malik :
Artinya : “ Barangsiapa yang menghina wali-Ku ( kekasih-Ku ), sesungguhnya ia telah terang-terangan memerangi-Ku. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan seperti Keraguan-Ku ketika mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman. Dia benci kematian dan saya tidak mau menyakitinya, sedangkan kematian itu pasti ada. Tidak ada sesuatu yang paling Aku sukai yang bisa mendekatkan hamba-Ku dengan-Ku lebih dari melakukan kewajiban yang Aku perintahkan kepadanya. Dan senantiasa mendekati-Ku dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunat sampai Aku mencintainya. Dan barangsiapa yang telah Aku cintai, maka Aku mendengar, melihat, menolong, dan mendukung-nya.”.
D. Macam-Macam Tawakal dan Mahabbah
1. Macam macam tawakal
Tawakal dibagi menjadi dua macam yakni :
a). Tawakal kepada Allah
Macam-macam tawakal kepada Allah dibagi menjadi empat yakni:
1). Tawakal kepada Allah dalam istiqomah dirinya dengan petunjuknya, pemurnian tauhid.
2). Tawakal kepada Allah dalam penegakan agama Allah di muka bumi, menanggulangi kehancuran, melawan bid’ah, berijtihad melawan orang kafir, amar ma’ruf nahi munkar.
3). Tawakal kepada Allah dalam rangka seorang hamba ingin mendapatkan berbagai hajat dan bagian duniawi atau dalam rangka menghindari berbagai hal yang tidak diharapkan dan berbagai musibah duniawi.
4). Tawakal kepada Allah dalam rangka mendapatkan dosa dan kekejian.
b). Tawakal kepada selain Allah
Tawakal kepada selain Allah terbagi menjadi dua yakni :
1). Tawakal bernuansa syirik
Tawakal bernuansa syirik terbagi menjadi dua yakni :
Pertama, tawakal kepada selain Allah ta’ala dalam hal yang tidak mampu mensikapinya selain Allah azza wa jalla, “seperti halnya orang-orang yang bertawakal kepada orang-orang yang telah mati dan para thaghut dalam rangka menyampaikan harapan tuntutannya berupa pemeliharaan, penjagaan, rezeki dan syafa’at.
Kedua, tawakal kepada selain Allah berkenaan dengan perkara-perkara yang dimampui sebagaimana yang ia kira oleh orang yang bertawakal tersebut. Ini adalah syirik kecil.
2). Perwakilan yang diperbolehkan
Yaitu ketika seseorang mewakilkan suatu pekerjaan yang dimampui kepada orang lain. Dengan demikian orang yang mewakilkan itu mencapai sebagian apa yang menjadi tuntutannya.
2. Macam-macam mahabbah
Mahabbah ada empat jenis yakni :
a). Mahabbah kepada Allah, yaitu cinta yang merupakan dasar iman dan tauhid.
b). Mahabbah karena Allah, yaitu mencintai nabi-nabi, rasul-rasul dan hamba-hamba –Nya yang sholeh serta mencintai apa yang dicintai Allah berupa amalan, waktu, tempat dan sebagainya. Cinta ini mengikuti dan menyempurnanan kecintaan kepada Allah.
c). Mahabbah bersama Allah, yaitu kecintaan orang-orang musyrik terhadap tuhan-tuhan dan sembahan-sembahan mereka seperti pohon, batu, manusia dan lain lain yang merupakan asal dan dasar dari syirik.
d). Mahabbah naluri terbagi menjadi tiga macam yakni :
1. Cinta penghormatan dan penghargaan, seperti cinta pada orang tua.
2. Cinta kasih sayang dan rahmat, seperti kecintaan kepada anak.
3. Cinta yang memiliki oleh semua orang.
E. Tingkatan Tawakal dan Mahabbah
1. Tingkatan tawakal
Tingkatan keadaan yang disebut tawakal berdasarkan kekuatan dan kelemahannya yaitu :
a. Pertama, yaitu keadaan dimana anda meyakini kebenaran bahwa Allah membantu dan menolong hamba-Nya, sebagiamana anda mempercayai orang yang menjadi wakil anda.
b. Kedua, tingkatan yang lebih tinggi, keadaan dimana anda merasa bersama Allah bagaikan anak dalam dekapan sang ibu. Anak-anak hanya mengenal ibunya, meminta tolong kepadanya, dan hanya bersandar kepadanya. Ketika ada bahaya menimpa, pikirannya hanyalah sang ibu dan kata pertama yang terlontar dari lidahnya adalah “ibu”. Jadi, jika anda menghamba kepada Allah, meyakini segala sesuatu datang dariNya, percaya dan bersandar kepadaNya layaknya seorang bayi kepada ibunya, maka tawakal anda sudah benar.
c. Ketiga, tingkatan ini merupakan tingkatan tertinggi yakni keadaan dimana anda memosisikan diri dihadapan Allah layaknya jenazah di depan orang yang memandikan nya, atau seperti anak kecil yang hendak dipisahkan dari ibunya. Anda merasa mati ketika jauh dari-Nya.
2. Tingkatan mahabbah
Tingkatan mahabbah (cinta) menurut al-sarraj, cinta (mahabbah) terbagi menjadi tiga tingkatan yakni :
a. Cinta biasa
Yaitu selalu mengingat tuhan dengan dzikir, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan tuhan. Senantiasa memuji tuhan.
b. Cinta orang yang shidiq
Yaitu orang yang kenal kepada tuhan, pada kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain lain. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari tuhan dan dengan demikian dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada tuhan. Ia mengadakan dialog dengan tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog tersebut. Cinta tingkat kedua ini sanggup membuat seseorang itu menghilangkan kehendak dan sifat-sifat nya sendiri. Sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta pada tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
c. Cinta orang yang arif
Yaitu orang yang tahu betul pada tuhannya. Cinta seperti ini timbul karena telah tahu betul-betul pada tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai.
Adapun cinta karena Allah dan RosulNya memiliki dua tingkatan yaitu :
Pertama, wajib. Tingkatan ini dimiliki oleh porang-orang yang berbeda dalam tingkat menengah dalam beribadah (muqtashid). Orang muqtashid menjadikan Allah dan Rosul-Nya sebagai sesuatu yang paling dicintai dari segala sesuatu yang lain. Derajat dan cinta ini menuntut nya untuk mencintai seseorang untuk melakukan semua yang diwajibkan.
Kedua, sunnat atau mustahabbah. Tingkatan ini dimiliki oleh orang-orang terdepan dalam beribadah (sabiqun). Orang-orang terdepan (sabiqun) ini mencintai secara sempurna semuaamal sunnat dan memiliki keutamaan. Ini adalah cintanya orang-orang yang di dekatkan pada Allah. “cinta sunnat menjadi sempurna dengan melakukan amal-amal sunnat.”
Ibnu taimiyah membedakan cinta manusia yang punya kehendak dengan cinta hewan yang tidak punya kehendak. Cinta manusia misalnya cinta laki-laki pada perempuan lahir karena adanya daya tarik diantara keduanya, serta karena adanya saling keterpengaruhan di antara keduanya. Sementara rasa cinta sesama hewan lahir karena adanya perbuatan baik dari yang dicinta.
Seseorang pada dasarnya tidak mencintai sesuatu kecuali jika sesuatu itu memberinya mamnfaat dan ingin terhindar dari musibah. Ia mencintai seseorang atau sesuatu, karena yang dicintainya itu menjadi sarana baginya untuk mendapatkan apa yang di inginkan nya. Cinta seperti ini bukan cinta karena Allah, bukan pula cinta pada dzat sesuatu yang dicintainya. Oleh karena itu, kita harus membedakan cinta yang disertai dengan tauhid dengan cinta yang mengandung syirik.
My Refleksi
Seperti yang telah difahami bawasannya maqomat dalam tasawwuf memiliki beberpa aliran diantarannya yang telah dipaparkan yaitu Maqomat Tawakkal dan Mahabbah. Bawasanya tawakkal seorang manusia sering mengeluh kesah dalam kehidupan sehari-hari, baik berupa permintaannya dalam doa yang belum kunjung dikabulkan meskipun dalam doa tersebut di imbangi dengan usaha yang maksimum, kerja keras, dan sungguh-sungguh. Karena pada dasarnya Allah tau yang terbaik pada hambanya, disetiap yang dikehendaki oleh Allah pasti yang terbaik sebab waktunya pas dengan yang dibutuhkan hamba. Sebagai seorang hamba alangkah baiknya kita intropeksi diri mana yang terbaik baginya, Tuhannya, dan masa depannya bukan hanya yang diingini saja yang dimasa kini. kata Ikhtiar inilah yang melahirkan tawakkal.
Ikhtiar ialah suatu proses yang dilakukan seorang manusia yang dilakukan dengan mengerahkan segala kemampuannya dengan sungguh-sungguh, sedangkan dalam ranah tawakkal seorang hamba harus selalu berperisangka baik pada Sang Penciptannya akan semua hal yang akan terjadi dimasa mendatang. Tawakkal ialah sikap menyadari untuk selalu berusaha dengan sungguh-sungguh apapun hasilnya nanti, dalam bentuk kapasitas jumlah kenikmatan yang dirasakan melainkan kita harus selalu bersyukur atas segala nikmat islam, ihsan, dan tasakkal. Apabila nanti hasil dari usaha kita tidak sesuai ekspestasi kita alangkah baiknya kita sedihnya sewajarnya saja dan kita patutlah ikhlas karena telah diberi banyak kenikmatan yang lainnya.
Mahabbah ialah suatu sikap seorang hamba yang mencintai Sang Penciptannya. Dalam hal ini al mahabbah seorang hamba akan melakukan apapun segala perintah-Nya agar dekat dengan Sang Pencipta. Seperti sufi Rabi’ah Al Adawiyah yang tidak mau menikah dikarenakan apabila ia mencintai seorang hamba ia takut kehilangan cinta pada Sang Penciptannya, namun kisah ini janganlah di pahami terlalu inflinsif karena nabi dan para sufi pada masanya juga menikah sebab menikah ilah salah satu syariat ibadah kepada Allah SWT. Pada dasarnya konsep mencintai ialah memberi dan melalukan apapun untuk orang yang dicintainnya, apabila kita mencintai Allah kita harus ridho dan melalukan segala perintah dan menjahui segala larangan-Nya. Konsep menikah yaitu untuk beribadah dan menyempurnakan agama kita sebagai manusia, karena pada dasaearnya kita harus seibang antara kehidupan dunia dan akhirat. Kita menjalankan perintahnya didunia baik berupa ikatan pernikahan agar kita menjalankan salah satu kebajiban sebagai hamba. Dimana tokoh sufi ada dikarenakan untuk mengingatkan dan mengajak kita untuk cintailah yang hakiki agar kita tidak terbuai dengan cinta yang semu, tapi jangan seperti Rabiah Adawiyah yang tidak mau menikah. Kita sebagai hamba wajiblah kembali ke Mahabbah mencintai secara sederhana dengan menjalankan segala perintah dan menjahui larangannya maka insyaallah mendapat mahrifatnya Allah SWT.
Karena dimasa mendatang sungguh sudah tertulis sebelum kita tercipta, dan percayalah segala harapmu yang kau langitkan suatu saat akan diaaminkan oleh Sang Pencipta kala sudah tepat pada waktunya. Percayalah cinta Sang khalik selalu ada meskipun kita tak selalu menginggat-Nya, maka ingatlah jalan pulang dari pengembaraanmu padaNya yang Maha Cinta. @Rilis_Wahyu
Sekian blog kali ini, thanks buat sahabat baca...sukses selalu
Catatan kaki
[1] Tim Guru MGPK Provinsi Jawa Timur. Bahan Ajar Akhalak.(Mojokerto: CV. Sinar Mulia,2012) hlm. 104
[2] Tim Guru PAI. Akidah Akhlak. (Sragen: CV Akik Pustaka, 2014) hlm. 7.
[3] Syamsun, Ni’am, Tasawuf Studies: Pengantar Belajar Tasawuf, (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2014)hlm. 137.
[4] Ahmad Bangun dan Rayani Hanum, Akhlak Tasawuf: Pengenalan, Pemahaman, dan Pengaplikasiannya (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2015), hlm. 47.
[5] Ris’an, Rusli, Tasawuf dan Tarekat: Studi Pemikiran dan Pengalaman Sufi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 54.
[6] TM. Hasbhi Ash Shiddieqiey, Al-Islam. I, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2008). Hlm. 535.
[7] Abdul Ghoni. An-Nuha: Konsep Tawakal Dan Relevansinya Dengan Tujuan Pendidikan Islam. UIN Walisongo Semarang, Vol. 03, No. 01, 2016. Hlm. 111.
[8] Jamil Shaliba. Al- Mu’jam Al-Falsafi, Jilid 2, (Mesir: Dar Al Kairo, 1978)hlm. 439.
[9] Elyana Savitri, MAKALAH TASAWUF : TAWAKAL DAN MAHABBAH, (https://elyanasavitri.blogspot.com/2019/05/makalah-tasawuf-tawakal-dan-mahabbah_57.html?m=1 , diakses pada senin, 8 Oktober 2020 pukul 15.32).
[10] Ibid.
[11] Abdullah bin Umar Ad-Dumadji (2006), At-Tawakal Alallah Ta’al, Jakarta : PT Darul Falah, hal. 67.
[12] Saramu Arufi, “makalah Mahabbah”, http://moomufo.blogspot.com/2015/09/makalah-mahabbah.html?m=1, (diakses pada 8 Oktober 2020, pukul 10. 00).
[13] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dkk, Terapi Tawakal, (Ahsan Books, 2011), hlm. 61-64.
[14] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, hlm. 55.
[15] Sayyid Ahmad, Tasawuf antara al-ghazali dan Ibnu Taimiyah, hlm. 320.
[16] Ibid., hlm. 324
@Rilis_Wahyu
#rilisyanglagirindu
#jangankautanyasiapakarnaakupuntaktau
Komentar
Posting Komentar