MENYIMBANGKAN AHWAL DALAM TASAWUF KHAUF DAN RAJA’
Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com
Kali ini Rilis_Wahyu. Com akan membahas mengenai Khauf dan raja’ dalam tasawuf. Berbicara tentang tasawuf berarti memperbincangkan maqamat dan ahwal. Keduanya dapat dikatakan sebagai rukun atau fondasi tasawuf. Tidak mungkin ada tasawuf, baik ia sebagai ilmu pengetahuan atau sebagai amalan, tanpa kehadiran maqamat dan ahwal. Dalam menjalani proses maqamat yang maha berat itu, jiwa seseorang sufi terbang mengembara mencari dan menemukan hakikat hidup, manusia dan Tuhan Yang Maha agung dan indah. Pada saat yang sama, ia juga mengalami ahwal; merasakan nikmatnya berada di puncak spiritual yang tak terkatakan dan tak bisa dilukiskan keindahannya.
Khauf dan raja’ dalam tasawuf digolongkan oleh sebagian sufi sebagai bagian dari ahwal perjalanan spiritual, yaitu sesuatu yang menempati atau menghiasi hati yang merupakan karunia. Sedangkan sebagian sufi yang lain menggolongkan khauf dan raja’ sebagai tahapan dalam maqamat.
A. Pengertian Khauf dan Raja’
a) Pengertian khauf
Secara etimologi khauf berasal dari bahasa arab khafa, isim masdarnya khufaa yang berarti ketakutan, dalam KBBI, khauf adalah kata benda yang memiliki arti ketakutan atau kekhawatiran. Kekhawatiran sendiri merupakan kata sifat yang bermakna takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui pastinya. Sedangkan takut adalah kata sifat yang memiliki beberapa makna seperti, merasa gentar menghadapi suatu yang dianggap akan mendatangkan bencana, tidak berani, gelisah, dan khawatir. Jadi makna dari khauf itu sendiri berarti perasaan gelisah atau cemas terhadap sesuatu yang yang dimana hal itu belum diketahui dengan pasti.
Adapun secara terminologi, sebagaimana diuraikan dalam kamus tasawuf, khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya., takut atau khawatir kalau-kalau Allah tidak senang padanya. Menurut Imam Qusyairy, takut kepada Allah berarti takut terhadap hukumnya. Menurutnya, khauf adalah masalah yang berkaitan dengan kejadian yang akan datang, sebab seseorang hanya merasa takut jika apa yang dibenci tiba dan yang dicintai sirna. Dan realitas demikian hanya terjadi di masa depan. Beliau mengemukakan dengan mengutip perkataan Ali Daqaq bahwa perasaan takut itu terbagi kepada tiga tingkatan yaitu khauf, khasyyah dan haibah.
Khauf adalah sebagian dari iman sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran dalam surat Al-Imran (3: 175) “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy) karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada Ku jika kamu benarbenar orang yang beriman. Para ulama’ membahagi khauf menjadi lima macam:
Khauf Ibadah, yaitu takut kepada Allah, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghina siapa yang dikehendaki-Nya, dan menahan dari siapa yang dikehendaki-Nya. Di tangan-Nya-lah kemanfaatan dan kemudharatan. Inilah yang diistilah olah sebahagian ulama‟ dengan Khaufus-Sirr.
Khauf Syirik, yaitu memalingkan ibadah qalbiyah ini kepada selain Allah, seperti kepada para Wali, Jin, Patung-patung, dan sebagainya.
Khauf Maksiat, seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang diharamkan karena takut dari manusia dan tidak dalam keadaan terpaksa . Allah berfirman, “Sesungguhnya mereka itu tidak lain syaitan-syaitan yang menakutinakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musryik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benarbenar orang-orang yang beriman. “
Khauf Tabiat, seperti takutnya manusia dari ular, takutnya singa, takut tenggelam, takut api, atau musuh, atau selainnya. Allah berfirman tentang Musa, “Karena itu, jadilah manusia di kota itu merasa takut menungggu dengan khawatir (akibat perbuatannya).
Khauf Wahm, yaitu rasa takut yaang tidak ada penyebabnya, atau pengebabnya tetapi ringan. Takut yang seperti ini amat tercela bahkan memasukkan pelaku ke dalam golongan para penakut.
b) Pengertian Raja’
Raja’ secara bahasa berarti perasaan gembira menanti atau berharap apa yang disukai. Dalam istilah syariat, Raja’ adalah perasaan gembira akan karunia Allah swt. Dan berharap mendapat pemberian-Nya, disertai dengan sikap percaya akan kebaikan Allah swt. Dengan sikap Raja’ ini hati akan terbimbing melangkah sampai negeri yang diidam-idamkan yaitu syurga Allah swt.
Secara terminologi, raja’ diartikan sebagai sesuatu sikap mental optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Ilahi yang disediakan bagi hamba-hamba-Nya yang shaleh. Imam Qusyairy mendefinisikan raja’ sebagai keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang. Sebagaimana halnya khauf berkaitan dengan apa yang akan terjadi di masa datang.
Menurut Ibnul Qoyyim dalam “Madarijus-Salikin”. “Orang-orang yang mengerti telah bersepakat bahwa raja’ tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal”. Dengan demikian, raja’ kepada Allah akan tercapai dengan beberapa hal, diantaranya: pertama, senantiasa menyaksikan karunia-Nya, kenikmatan-Nya, dan kebaikan-kebaikanNya terhadap hamba; kedua jujur dalam mengharap apa yang ada di sisi Allah dari pahala dan kenikmatan; ketiga, membentengi diri dengan amal shaleh dan bergegas dalam kebaikan.
Ibnul Qoyyim membagi raja’ kepada tiga bagian, dua diantaranya raja’ ; yang benar dan terpuji pelakunya, sedang yang lainnya tercela. Raja’ yang menjadikan pelakunya terpuji; pertama, seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah diatas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahala-Nya; kedua, seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya. Adapun yang menjadikan pelakunya tercela: seseorang terus-menerus dalam kesalahankesalahanya lalu mengharap rahmat Allah
tanpa dibarengi amalan; raja‟ yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.
Raja’ menuntut adanya khauf dalam diri seseorang mukmin, yang dengan itu akan memacukan untuk melakukan amalan-amalan sholeh, tanpa disertai khauf, raja’ hanya akan bernilai sebuah fatamorgana. Sebaliknya khauf juga menuntut adanya raja’ tanpa raja’, khauf hanyalah berupa keputusan tak berarti Jadi, khauf dan raja’ harus senantiasa menyatu dalam diri seorang mukmin dalam rangka menyeimbangkan hidupnya untuk tetap istiqomah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi laranganlarangan-Nya mengharap pahala dan takut akan siksaNya. Keduanya ibarat dua sayap burung yang denganya ia dapat menjalani kehidupannya dengan sempurna.
B. Dalil Mengeni Raja' dan Khauf
a) Dalil Khauf (rasa takut)
Adapun dalil yang mebahas mengenai khauf, yaitu:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَة أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَ افُونَ عَذَابَهُ
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapakah diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)
Ada kata lain yang dipakai oleh para sufi untuk menyebut perasaan takut, disamping khauf, yaitu: khasyyah. Khasyyah ialah rasa takut yang dilatarbelakangi pengetahuan terhadap kebesaran Dzat yang ditakutinya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, sebagaimana firman Allah dalam QS Fathir : 28,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antar hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama”.( QS Fathir : 28) yang dimaksud dengan orang yang memiliki sikap khasyyah adalah orang yang mengerti akan keagungan Allah dan kesempurnaan kekuasaan-Nya.
b) Dalil Raja’ (berharap)
Terdapat beberapa dalil mengenai sikap raja’ yaitu:
مَََنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًً صَالِحًا وَلَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدً ا
“Untuk itu, barang siapa yang mengharab berjumpa dengan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengajarkan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan dengan apapun dalam beribadah kepada Rabbnya”. (QS. Al-Kahfi: 110)
Seorang hamba harus menyeimbangkan antara khauf dan raja’ sebagaimana dalam ayat berikut yang menjelaskan seorang hamba berdoa dengan harap dan cemas.
Allah berfirman,
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَ هَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbujatan yang baik dan mereka berdo’a kepada kami dengan harapan dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)
Apabila terlalu besar dan mendominasi rasa takut (khauf), maka akan terjerumus dalam akidah khawarij yang putus asa dari rahmat Allah padahal Allah Maha Pengasih. Apabila terlalu besar dan mendominasi rasa raja’ (berharap), maka akan terjerumus dalam akidah murji’ah yang menghilangkan rasa takut kepada Allah, hanya menonjolkan ampunan dan rasa harap padahal Allah juga “syadidul iqab” yaitu keras azabnya.
Karenanya dua hal ini dimisalkan seperti sayap burung, tidak boleh ada yang lebih berat atau rusak sebelah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,
والعبد يسير إلى الله بين الرجاء والخوف كالجناحين للطائر، يخاف الله ويرجوه
“Seorang hamba harus beribadah kepada Allah diantara raja’ dan khauf sebagaimana dua sayap burung.”
C. Contoh Perilaku Khauf dan Raja’
a) Contoh Perilaku dan Sikap Tidak Terpuji dari Khauf dan Raja’
Orang yang raja’ memiliki rasa optimism yang terlalu tinggi, sehingga tidak memiliki rasa takut dengan dosa yang telah, sedang, atau akan diperbuatnya. Dia akan merencanakan taubat apabila dia sudah puas berbuat kemaksiatan.
Sebalikya, orang dalam keadaan khauf yang berlebihan akan memiliki hidup yang kacau dan berantakan. Rasa bersalah akan dosa besar yang dilakukannya menutupi harapan dia kembali ke jalan yang benar. Dia yakin bahwa semua kebaikan yang dilakukan tidak dapat menebus dosanya sehingga dia tidak segra bertaubat justru semakin tenggelam dalam kemaksiatan.
Orang yang sedang dalam keadaan raja’ dia memastikan akan mendapat kasih sayang, rahmat dan ampunan dari Allah. Berbeda dengan orang yang dalam keadaan khauf, yang terbayang olehnya adalah siksaan dan azab Allah yang sangat pedih.
b) Contoh Perilaku dan Sikap Terpuji dari Khauf dan Raja’
Perilaku dan Sikap Khauf
Selalu mengingat siksaan Allah jika ingin berbuat maksiat
Jangan mengingat kebaikan yang kita berbuat dan ingatlah dosa yang kita perbuat
Senantiasa berwaspada dengan godaan-godaan untuk bermaksiat
Selalu berusaha meningkatkan ibadah kita
Sangat berhati-hati dengan perilaku dan ucapannya
Selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga kita menjauhi laranganlarangan Allah.
Perilaku dan Sikap Raja’
Senantiasa mengaharapkan pengampunan kepada Allah swt
Selalu mengharapkan kemuliaan dan pahala dari Allah semata bukan dari manusia
Berharap kehidupan bahagia dunia dan akhirat hanya kepada Allah swt
Senantiasa mengharap ridho dan rahmat dari Allah swt.
Selalu berfikir positif
Serta memiliki rasa tanggung jawab, penganyom dan pelindung.
Selalu bersyukur dengan rahmat dari Allah.
My Refleksi
Seperti pemamparan diatas maka disimpulkan bahwa khauf ialah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah Ta’ala karena kurang sempurna pengabdiannya, takut atau khawatir kalau-kalau Allah tidak senang padanya. Sedangkan Raja’ adalah sesuatu sikap mental optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Ilahi yang disediakan bagi hamba-hamba-Nya yang shaleh. Dalil tentang khauf dan raja’ telah jelas tertera dalam Al-Qur’an dan As-Sunah yang mana sebagai sumber hukum umat Islam di dunia.
Dalam kesehidupan sehari-hari patutlah menyeimbangkan dan berhubungan khauf dan raja’. Kekurangan khau menyebabkan seseorang lalai dan berani melakukan maksiat, sedangkan khauf yang berlebihan akan menjadikan putus asa dan pesimis. Begitu pula dengan sebaliknya, apabila sikap khauf dan raja’ terlalu besar dan berlebihan, akan membuat orang
menjadi sombong dan meremehkan amalan-amalan karena rasa optimisnya yang berlebihan.
“ sudah tidak adalagi kenestapaan di hela nafas hidupku. Keseluruhan tubuhku telah menjadi khauf dan raja’ dalam menjalankan sgala garis yang telas ada sebelum tercipta.” @Rilis_Wahyu.
Sekian blog kali ini, thanks buat sahabat baca...sukses selalu
#Rilis_Wahyu
#rilisyanglagirindu
#jangankautanyasiapakarnaakupuntaktau
Komentar
Posting Komentar