Mengembangkan Materi Dan Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq MI
Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com
Gambar dari Google
Hayy sahabat baca, kembali lagi dengan Rilis_Wahyu.Com untuk myblog kali ini aku mencoba melanjutkan topik tulisanku yang kemarin. Nahh pembahasan kali ini tentang Makalah Mengembangkan Materi Dan Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq MI. Bicara mengenai proses pembelajaran tidak akan lepas dari kaidah Tujuan, Materi Pembelajaran, dan Metode dari Materi Aqidah Akhlak. Aqidah Akhlaq merupakan salah satu rumpun mata pelajaran pembelajaran agama di madrasah (Al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Syari’ah/Fiqih Ibadah Muamalah dan Sejarah Kebudayaan Islam) yang secara integratif menjadi sumber nilai dan landasan moral spiritual yang kokoh dalam pengembangan keilmuan dan kajian keislaman. Untuk menyingkat waktu kita kupas tuntas materinya geasss...
MENGEMBANGKAN MATERI DAN METODE PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAQ MI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aqidah-Akhlaq MI dan MTs
Dosen Pengampu: Ahmad Muzakkil Anam, M.Pd.I.
Disusun oleh:
1. Rilis Wahyu Diana N.P. (193111038)
2. Muhammad Nur Wahid (193111052)
3. Asrul Hidattullah (193111054)
4. Ferdinan Rahmad Saputro (193111061)
5. Ainin Mufidah (193111073)
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Mengembangkan Materi dan Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq MI” dengan baik Adapun tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Aqidah-Akhlaq MI dan MTs yang diampu oleh Bapak Ahmad Muzakkil Anam, M.Pd.I. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah pengetahuan serta wawasan tentang pembelajaran aqidah akhlaq bagi para pembaca dan juga untuk penulis.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ahmad Muzakkil Anam, M.Pd.I.
selaku dosen mata kuliah ini yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni. Terimakasih juga disampaikan kepada rekan-rekan kelompok 3 (tiga) mata kuliah Aqidah-Akhlaq MI dan MTs
yang telah berkerja sama dengan baik dan profesional dalam membagi maupun mengerjakan tugas kelompok ini. Kami menyadari tulisan ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca dalam rangka menjadikan tulisan ini menjadi lebih baik.
Surakarta, 10 Oktober 2021
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................... i
DAFTAR ISI............................................. ii
BAB I ...................................................... 1
PENDAHULUAN...................................... 1
A. Latar Belakang ................................... 1
B. Rumusan Masalah.............................. 2
C. Tujuan................................................... 2
BAB II........................................................ 3
PEMBAHASAN ........................................ 3
A. Pengertian Tujuan Pembelajaran....... 3
1. Tujuan Pembelajaran Di Indonesia...... 3
2. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran di Indonesia disusun secara hierarkis sebagai berikut:....................................... 4
3. Tujuan kurikuler/standar kompetensi/ KI............................................................. 5
4. Tujuan Intruksional............................... 5
B. Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak.. 6
C. Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq. 6
D. Langkah-langkah Memilih Metode Pembelajaran ......................................... 10
BAB III PENUTUP.................................... 12
A. Kesimpulan......................................... 12
B. Saran................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA.................................. 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aqidah Akhlak adalah mata pelajaran yang menanamkan dasar keimanan pada seseorang. Aqidah akhlak merupakan keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya suatu perbuatan. Oleh karena itu, dalam menjalin suatu hubungan antar sesama manusia harus dilandasi dengan akhlak yang karimah. Karena akhlak ini tidak hanya dirasakan oleh manusia itu sendiri dalam kehidupan, namun juga dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat serta bernegara. Akhlak merupakan suatu hal yang membedakan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, akhlak yang
mulia adalah perhiasan sesudah iman dan taat kepada Allah SWT dan dengan akhlak
ini maka terciptalah kemanusiaan manusia itu.
Pembelajaran Aqidah Akhlak bertujuan untuk membentuk keimanan dan
perkembangan perilaku dari setiap peserta didiknya, pembelajaran ini akan berhasil
dilaksanakan apabila ditunjang dengan penggunaan sarana- prasarana, alat
pembelajaran, media pembelajaran dan metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik dan materi pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dalam proses ini akan memudahkan kegiatan penyampaian materi pembelajaran, apabila dirancang berdasarkan pendekatan pembelajaran yang dipilih.
Jika suatu metode pembelajaran yang akan disampaikan tidak disesuaikan dengan materi pelajaran, situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didiknya maka pembelajaran tersebut akan menjadi kurang maksimal. Pembelajaran menjadi kurang mengena pada sasaran dan tidak efektif, sehingga yang terjadi pada peserta didik tersebut adalah suatu kebosanan, merasa tertekan, dan pembelajaran yang monoton. Apabila hal ini terus dibiarkan maka akan menjadikan suatu masalah yang besar, dan berdampak pada prestasi belajar dari peserta didik tersebut menjadi menurun, serta mutu pendidikan juga terjadi perubahan yang signifikan.
Dari kenyataan yang ada, guru dalam pembelajaran Aqidah Akhlak masih
menggunakan metode konvensional yaitu ceramah murni. Dengan metode ceramah
yang monoton siswa kurang tertarik dalam proses pembelajaran dan menjadikan siswa rendah dalam hasil belajarnya. Oleh karena itu diperlukan adanya inovasi dalam kegiatan pembelajaran tersebut dengan menggunakan metode yang lebih bervariasi.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian dari Tujuan Pembelajaran
2. Bagaimana Materi Pembelajaran Aqidah Akhlaq di MI
3. Bagaimana Metode pembelajaran Aqidah Akhlaq di MI
4. Bagaimana Langkah-langkah Memilih Metode Pembelajaran
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari Tujuan Pembelajaran
2. Mengetahui Materi Pembelajaran Aqidah Akhlaq di MI
3. Mengetahui metode pembelajaran Aqidah Akhlaq di MI
4. Mengetahui Langkah-langkah dalam Memilih Metode Pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tujuan Pembelajaran
1. Tujuan Pembelajaran Di Indonesia
Menurut Roestiyah NK: suatu tujuan pembelajaran adalah diskripsi tentang penampilan perilaku (performance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pembelajaran yang kita ajarkan.1Menurut B.S Bloom Ada tiga kategori tujuan :
1. Ranah kognitif / Cognitive Domain. Tujuan pembelajaran kognitif adalah
tercapainya kemampuan intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2. Ranah afektif / Affective Domain. tujuan pembelajaran afektif adalah pemberian keterampilan suatu proses dan hasil belajar yang menekankan pada bagaimana siswa bersikap dan bertingkah laku didalam lingkungan dan masyarakat.
3. Ranah Psikomotorik / psychomotor Domain. tujuan psikomotor sebagai
proses dan hasil belajar siswa yang bertujuan memberikan pengalaman
kepada siswa untuk keterampilan mengerjakan sesuatu dengan menggunakan motorik yang dimilikinya.
Dari pengertian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan pembelajaran
adalah harapan mengenai gambaran perilaku siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik setelah mempelajari bahan pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Dalam merumuskan tujuan pembelajaran harus berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. Adapun syarat dalam menyusun rumusan tujuan pembelajaran di RPP, yakni harus ada komponen-komponen diantaranya yaitu:
• A adalah simbol dari Audien (siswa)
• B adalah simbol dari Behavior (dapat menjelaskan)
• C adalah simbol dari Condition (melalui diskusi)
• D adalah simbol dari Degree (dengan teliti/baik)
Contoh Perumusan Tujuan Pembelajaran Di RPP:
Siswa dapat menunjukkan binatang yang
A B
halal yang hidup di darat dan di dalam air
melalui diskusi dan observasi alam
C
dengan teliti/cermat.
D
2. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran di Indonesia disusun secara hierarkis sebagai berikut:
1. Tujuan Pendidikan Nasional
Rumusan tujuan pendidikan nasional di Indonesia telah beberapa kali mengalami penyempurnaan dan perubahan Sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi di tanah air. Rumusan tujuan pendidikan nasional yang terakhir dirumuskan adalah rumusan yang terdapat pada UU nomor 20 tahun 2003 sebagai berikut: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”2
2. Tujuan Institusional / SKL Menurut kurikulum berbasis kompetensi tahun 2004 yang disempurnakan tahun 2006 tujuan institusional sering disebut juga dengan standar kompetensi lulusan satuan (SKL) Pendidikan. SKL Untuk jenjang pendidikan dasar yaitu SD/ MI antara lain:
a. Membaca, menghafal, menulis, dan memahami surat-surat pendek dalam
al-Qur’an surat al-Fatihah, an-Nas sampai surat ad-Duha.
b. Menghafal, memahami arti, dan mengamalkan hadits-hadits pilihan
tentang akhlak, dan amal saleh.
3. Tujuan kurikuler / standar kompetensi/ KI
Tujuan kurikulum adalah tujuan yang hendak dicapai dari suatu program studi, bidang studi atau satuan mata pelajaran yang disusun berdasarkan atau mencakup pada tujuan institusional. Seperti tujuan
pendidikan agama Islam untuk jenjang MI atau yang lebih dikenal dengan standar kompetensi (dalam KTSP 2006 disebut SK) atau Kompetensi Inti (dalam Kurikulum-2013 disebut KI), adapun isi dari SK atau KI yaitu:
a. KI- 1 berisi ranah Spiritual.
b. KI- 2 berisi ranah Sosial.
c. KI- 3 berisi ranah Pengetahuan.
d. KI- 4 berisi ranah Keterampilan.
4. Tujuan Intruksional
Tujuan intruksional adalah tujuan yang hendak dicapai setelah selesainya suatu kegiatan proses belajar mengajar. pada kurikulum 1994 tujuan pengajaran disebut dengan tujuan pembelajaran yang dibedakan menjadi tujuan:
a. Tujuan Instruksional Umum (TIU) / Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar
adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukkan bahwa siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan, oleh karena itulah maka kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar kompetensi.3
b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) / Indikator. Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja
operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
B. Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak
Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi:
a. Relevansi
Prinsip relevansi artinya materi pembelajaran hendaknya relevan
memiliki keterkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Relevan disini berarti antara materi pembelajaran dengan standar kompetensi dasar atau kompetensi dasar saling ada keterkaitan, bahan ajar yang ada seharusnya harus dapat mendukung dalam memenuhi target atau tujuan
dalam proses pembelajaran.
b. Konsistensi
Prinsipkonsistensi artinya adanya ketetapan antara bahan ajar dengan
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Konsisten disini dimaksudkan
dalam target kompetensi dasar yang harus dicapai harus selaras dengan materi
pembelajaran yang akan diajarkan, tidak boleh melebihi dari kompetensi dasar
yang sudah ditetapkan.
c. Kecukupan
Prinsipkecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai
dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.Materi yang disajikan seharusnya memadai dan dapat membantu siswa dalam memenuhi
kompetensi dasar yang ditetapkan, materi harus selalu sejalan dan searah dengan
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Untuk mengembangkan materi pembelajaran guru harus memperhatikan
potensi siswa, relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat perkembangan fisik, intlektual, emosional, sosial, dan spritual siswa, kebermanfaatan bagi siswa, struktur keilmuan, aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran, relevansi dengan kebutuhan siswa dan tuntutan lingkungan dan alokasi waktu.4
C. Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq
Metode mengajar adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa
untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.5 Metode pembelajaran merupakan cara untuk melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu, sinkronisasi antara metode dengan kemampuan yang akan dicapai berdasarkan indikator yang telah dirancang atau disepakati oleh guru atau guru bersama-sama siswa. Nantinya diharapakan guru dapat memilih metode apa yang paling tepat untuk mempertimbangkan jumlah siswa, alat, fasilitas, biaya dan waktu.6
Banyak metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran agama islam, yang
hamper tidak berbeda jauh dengan metode-metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran mata pelajaran lain. Namun yang lebih spesifik dalam pembelajaran Agama Islam terutama pembelajaran Aqidah Akhlak meliputi; metode ceramah, Tanya jawab, Diskusi, Demonstrasi, Sosiodrama, dan Pemberian Tugas.
Keaneka ragaman Metode ini mengakibatkan guru harus memahami proses belajar mengajar dan pronsip-prinsip dasar dalam metode pendidikan Islam yang meliputi: prinsip kesesuaian dangan psikologi anak, menjaga tujuan pelajaran, memelihara tahap kematangan, dan partisipasi praktikal.
Bentuk metode pendidikan Islam yang relevan dan efektif dalam pengajaran
Islam adalah:
1. Metode Drakronis
Suatu metode mengajar ajaran yang menonjol aspek sejarah. Metode ini memungkinkan adanya study komperatif tentang berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan,
sehingga peserta didik memiliki ilmu pengetahuan yang relevan. Metode ini menyebabkan peserta didik ingin mengetahui, memahami, menguraikan dan meneruskan ajaran Islam dari sumber-sumber dasar, yakni Al-Qur’an dan As-sunnah.
2. Metode Sinkronis-analitis
Suatu metode pendidikan Islam yang memberikan kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental intelek. Metode ini semata-mata mengutamakan segi pelaksanaan atau implikasi praktis. Teknik pengajarannya meliputi diskusi, lokakarya, seminar, kerja kelompok resensi buku.
3. Metode Problem Solving
Metode ini merupakan penelitian peserta didik yang dihadapkan pada berbagai masalah suatu cabang ilmu pengetahuan dengan solusinya. Metode ini dapat dikembangkan melalui simulasi, micro-
teaching dan critacal incident.
4. Metode Empiris
Suatu metode mengajar yang memungkinkan peserta didik mempelajari ajaran Islam melalui realisasi serta internalisasi norma dan kaidah Islam melalui proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial. Kemudian secara deskriptif, proses-proses interaksi dapat dirumuskan dalam suatu sistem norma baru. Keuntungan metode ini adalah peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan secara teoritis-normatif, tetapi juga adanya pengembangan deskriptif inovasi beserta aplikasinya dalam kehidupan sosial.
5. Metode Induktif
Metode ini dilakukan oleh pendidik dengan cara mengerjakan materi yang khusus menuju kesimpulan yang umum. Tujuan metode ini adalah agar peserta didik bisa
mengenal kebenaran-kebenaran dan hukum-hukum setelah melalui riset.
6. Metode Deduktif
Metode ini dilakukan oleh guru dalam pengajaran Islam melalui cara menampilkan kaidah yang umum kemudian menjabarkannya dengan berbagai contoh masalah sehingga
menjadi terurai. Metode ini sangat diperlukan dalam pendidikan karena peserta didik bisa membandingkan dan merumuskan konsep-konsep. Hal ini menunjukkan bahwa pendidik dapat
memainkan peranan dalam mengembangkan deduksi melalui
pemberian fakta-fakta atau materi-materi yang diperlukan terhadap peserta didik dan memberikan kesempatan kepada
mereka untuk menentukan prinsip umum tersebut. Di dalam metode ini cara menegaskan keterampilan lebih dominan
ketimbang pengembangan pikiran peserta didik (mental intelektualnya). Sehingga terdapat kelemahannya yakni terbatasnya
perkembangan pikiran peserta didik mungkin hanya terbatas pada kerangka yang sudah tetap dan akhirnya bersifat mekanistik.
Selain metode diatas dijelaskan juga ada beberapa metode pendidikan lainnya seperti :
1. Metode targhib
Metode targhib adalah strategi atau cara untuk meyakinkan seseorang terhadap
kebenaran Allah melalui janji-Nya yang disertai dengan rayuan dan bujukan untuk
melakukan mal shaleh. Bujukan yang dimaksud adalah kesenangan dunia dan
ukhrawi akibat melakukan suatu perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Sedangkan metode tarhib adalah strategi untuk meyakinkan seseorang terhadap
kebenaran Allah melalui ancaman dengan siksaan sebagai akibat melakukan perbuatan yang dilarang Allah, atau tidak melaksanakan perintah Allah.
2. Metode Tajribi (latihan pengamalan)
Ilmu yang digali tidak berhenti pada konsep semata, melainkan dilanjutkan
kepada praktek pengamalannya. Sebagian ulama’ salaf mengatakan bahwa ilmu
akan berkurang bila tidak diamalkan, tetapi akan bertambah kuat ilmu itu apabila diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Pada metode ini siswa dilatih
membiasakan melakukan sesuatu, seperti membiasakan shalat, bagaimana praktiknya. Latihan pengamalan sebagi metode pendidikan Qur’ani dalakukan
dengan latihan dan pengulangan latihan menghafal, latihan berfikir untuk
memperdalam iman.
3. Metode pendidikan keteladanan
Salah satu metode pendidikan yang dianggap besar pengaruhnya terhadap
keberhasilan proses belajar mengajar adalah metode pendidikan dengan
keteldanan. Metode keteladanan adalah metode pendidikan dengan cara
memberikan contoh yang baik kepada para peserta didik baik dalam ucapan
maupun dalam perbuatan.
4. Metode Hiwar Qur’ani
Hiwar dalam al-Qur’an adalah segala bentuk dialog yang disajikan dalam Al-Qur’an, ditampilkan apa adanya, baik dialog Allah dengan para malaikat, dengan para rasul dan makhluk lainnya. Hiwar Qur’ani dapat diartikan seabagai dialog,
yakni pembicaraan antara dua pihak atau lebih yang dilakukan melalui Tanya jawab yang terdapat satu topic dan bertujuan hendak dicapai. Rasulullah saw menjadikan dialog tersebut sebagai pedoman dalam mempraktekkan metode
pendidikan dan pengajaran beliau.
5. Metode ibrah dan mau’izah.
Pendidikan dengan ibrah dilakukan oleh pendidik dengan mengajak peserta didik mengetahui inti sari suatu perkara yang disaksikan, diperhatikan, diukur, dan diputuskan oleh manusia secara nalar, sehingga kesimpulannya dapat mempengaruhi hati. Misalnya peserta didik diajak merenungkan kisah nabi yusuf yang dianiaya oleh saudara-saudaranya dan mengambil pelajaran dari kisah tersebut. Pendidikan dengan mau’izah adalah pemberian nasihat dan peringatan
akan kebaikan dan kebenaran dengan cara menyentuh qalbu dan menggugah untuk mengamalkannya. Mau’izah dapat berbentuk nashihat dan tazkir (pengingatan)
D. Langkah-langkah Memilih Metode Pembelajaran
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih strategi, metode, dan teknik pembelajaran PAI:
1. Menurut Wina Sanjaya dasar pertimbangan memilih strategi, metode, dan teknik pembelajaran yaitu pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai, pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran, dan pertimbangan dari sudut siswa.
2. Menurut Hatim Riyanto dasar pertimbangan memilih strategi, metode, dan teknik pembelajaran yaitu:
a. Kesusaian dengan tujuan intruksional yang hendak dicapai.
b. Kesusaian dengan bahan bidang studi yang terdiri dari aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.
c. Strategi pembelajaran itu mengandung seperangkat kegiatan pembelajaran yang mungkin mencakup penggunaan beberapa metode pengajaran yang relevan dengan tujuan dan materi pelajaran.
d. Kesusaian dengan kemampuan profesional guru bersangkutan terutama
dalam rangka pelaksanaannya di kelas.
e. Cukup waktu yang tersedia, karena erat kaitannya dengan waktu belajar dan banyaknya bahan yang harus disampaikan.
f. Kesediaan unsur penunjang, khususnya media instruksional yang relevan dan peralatan yang memadai.
g. Suasana lingkungan dalam kelas dan lembaga pendidikan secara keseluruhan.
h. Jenis-jenis kegiatan yang serasi dengan kebutuhan dan minat siswa, karena erat kaitannya dengan tingkat motivasi belajar untuk mencapai tujuan intruksional.
3. Selain itu, Yatim Riyanto juga memberikan pandangannya berkenaan dengan dalam pemilihan dan penetapan strategi pembelajaran ada beberapa hal yang perlu dijadikan sebagai pertimbangan antara lain:
a. Kesusaian dengan tujuan intruksional yang hendak dicapai.
b. Kesusaian dengan bahan bidang studi yang terdiri dari aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.
c. Strategi pembelajaran itu mengandung seperangkat kegiatan pembelajaran yang mungkin mencakup penggunaan beberapa metode pengajaran yang relevan dengan tujuan dan materi pelajaran.
d. Kesusaian dengan kemampuan profesional guru bersangkutan terutama
dalam rangka pelaksanaannya di kelas.
e. Cukup waktu yang tersedia, karena erat kaitannya dengan waktu belajar dan banyaknya bahan yang harus disampaikan.
f. Kesediaan unsur penunjang, khususnya media instruksional yang relevan dan peralatan yang memadai.
g. Suasana lingkungan dalam kelas dan lembaga pendidikan secara keseluruhan.
h. Jenis-jenis kegiatan yang serasi dengan kebutuhan dan minat siswa, karena erat kaitannya dengan tingkat motivasi belajar untuk mencapai tujuan intruksional.7
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa tujuan, materi,
dan metode pembelajaran diperlukan dalam proses belajar mengajar terutama dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Sekolah Dasar atau MI, karena tanpa mengajar menggunakan Tujuan, Materi, dan Metode pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum pembelajaran maka bisa dikatakan tidak mungkin tujuan pembelajaran tersebut bisa dicapai.
Pembelajaran Aqidah Akhlak bertujuan untuk membentuk keimanan dan
perkembangan perilaku dari setiap peserta didiknya, pembelajaran ini akan berhasil
dilaksanakan apabila ditunjang dengan penggunaan sarana- prasarana, alat
pembelajaran, media pembelajaran dan metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik dan materi pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dalam proses ini akan memudahkan kegiatan penyampaian materi pembelajaran, apabila dirancang berdasarkan pendekatan pembelajaran yang dipilih.
Banyak metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran agama islam, yang hampir tidak berbeda jauh dengan metode-metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran mata pelajaran lain. Keaneka ragaman Metode ini mengakibatkan guru harus memahami proses belajar mengajar dan pronsip-prinsip dasar dalam metode pendidikan Islam yang meliputi: prinsip kesesuaian dangan psikologi anak, menjaga tujuan pelajaran, memelihara tahap kematangan, dan partisipasi praktikal.
B. SARAN
Saran yang dapat kami sampaikan kepada calon pendidik dalam pembahsan masalah ini adalah agar selalu memperhatikan semua jenis dan bentuk tujuan, materi
maupun metode yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran terutama dalam membelajarkan Aqidah dan Akhlak di jenjang MI agar dapat apa yang menjadi tujuan pembelajaran tersebut bisa tercapai, yang selanjutnya diharapkan mampu meningkatkan kualitas Pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 78, 2003. Undang-Undang RI No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 32.
Fitri Erning K, “Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlaq Di Madrasah Ibtida’iyah”. Jurnal Penelitian, Vol. 9 No. 2, Agustus 2015
Teguh Harisman, “Dasar Pertimbangan Memilih Strategi, Metode, Teknik Dalam
Pembelajaran,” Jurnal pendidikan (2015)
Fathurrohman, Pupuh & M. Sobry Sutikno. 2009. Strategi Belajar Mengajar; Strategi
Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum
&KonsepIslami. Bandung: PT Refika Aditama.
Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, (Jakarta: Gaung
Persada Press, 2008), hlm.138.
Martinis Yamin. 2008. Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press.
Pupuh Fathurrohman dan Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011)
Roestiyah NK., Srategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1989), Cet. Ke III
Wina sanjaya, kurikulum dan pembelajaran, (Jakarta: Kencana Media Perdana Grup, 2008)
My Refleksi
Tujuan merupakan cita-cita yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain tujuan pembelajaran adalah kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah memperoleh pengalaman belajar. Menurut Nana Sudjana & Wari Suwari (1991) dalam Sobry Sutikno (2013), kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor).
Ada guru yang menganggap mengajar hanya merupakan proses menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Bagi mereka tujuan mengajar tiada lain adalah menyampaikan materi pelajaran itu, tidak peduli apakah materi itu dikuasai atau tidak oleh siswa, yang penting materi itu telah tersampaikan. Oleh karena itu, banyak guru yang merasa bersalah manakala ada bagian materi pelajaran yang belum diceramahkan karena jam pelajaran terbatas, seakan-akan seluruh materi itu harus disampaikan.
Pendapat tersebut tentu saja tidak tepat, sebab mengajar bukan hanya sekedar ceramah yang diukur oleh seberapa banyak materi itu telah disampikan kepada siswa, melainkan mengajar adalah proses untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, kriteria keberhasilannya diukur oleh bagaimana aktivitas siswa untuk mempelajari bahan pelajaran serta seberapa banyak materi yang telah dikuasai itu mampu memengaruhin pola pikir siswa.
Bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/ suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik serta digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Fungsi bahan ajar dapat dibedakan berdasaarkan kebutuhan pendidik,yakni untuk pedoman bagi pendidik dalam memberikan materi dan menghemat waktu belajar. Sedangkan bagi peserta didik bahan ajar dapat berfungsi sebagai alat belajar tanpa harus menggantungkan diri terhadap pendidik.
Metode secara harfiah berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Kata “pembelajaran” berarti segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Jadi, metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, salah satu keterampilan guru yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran adalah keterampilan memilih metode. Pemilihan metode berkaitan langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran diperoleh secara optimal. Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru Aqidah Aklak adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan pembelajaran yang sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan
"Murid yang dipersenjatai dengan informasi akan senantiasa memenangkan pertempuran"@Meladee McCarty
Jadilah Pendidik yang memiliki 1001 rancangan agar anak yang kau didik mengetahuin kepintaran bukan hanya soal ujian tapi juga implementasi di kehidupan
@Rilis_Wahyu
Sekian blog kali ini, thanks buat sahabat baca...sukses selalu
@Rilis_Wahyu
#rilisyanglagirindu
#jangankautanyasiapakarnaakupuntaktau
Komentar
Posting Komentar