MENGEMBANGKAN MATERI DAN METODE PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK MTs
Oleh : Rilis_Wahyu
Email : riliswahyu87654@gmail.com
Gambar dari Google
Hayy sahabat baca, kembali lagi dengan Rilis_Wahyu.Com untuk myblog kali ini aku mencoba melanjutkan topik tulisanku yang kemarin. Nahh pembahasan kali ini tentang Mengembangkan Materi Dan Metode Pembelajaran Aqidah Akhlaq MTs. Bicara mengenai proses pembelajaran tidak akan lepas dari kaidah Tujuan, Materi Pembelajaran, dan Metode dari Materi Aqidah Akhlak. Aqidah Akhlaq merupakan salah satu rumpun mata pelajaran pembelajaran agama di madrasah (Al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Syari’ah/Fiqih Ibadah Muamalah dan Sejarah Kebudayaan Islam) yang secara integratif menjadi sumber nilai dan landasan moral spiritual yang kokoh dalam pengembangan keilmuan dan kajian keislaman. Untuk menyingkat waktu kita kupas tuntas materinya geasss...
Dalam ranah pendidikan kita tidak bisa terlepas dari pengajaran dimana
pengajaran merupakan komponen utama yang ada didalam suatu proses pendidikan. Dalam proses pengajaran pasti dibutuhkan suatu bahan ajar agar pembelajaran dapat berlangsung, didalam bahan ajar tentunya pendidik dituntut untuk dapat mengembangkan bahan ajarnya agar didalam proses pembelajaran tidak berjalan dengan monoton sehingga lebih dapat terlihat variatife. Menurut Banathy (dalam Gatot, 2008) beliau menyatakan bahwasanya pengembangan bahan ajar merupakan suatu proses yang sistemastis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, serta mengevaluasi isi dan strategi pembelajaran yang diarahkan untuk dapat mencapai suatu tujuan dalam pembelajaran secara lebih efisisen dan efektif.
Ketika bahan ajar telah ditentukan dan dipikirkan dengan matang maka
seorang pendidik pasti akan menentukan bagaimana metode yang akan dijalankan
dalam mengajar karena aka nada berbagai metode yang dapat diaplikasikan oleh
seorang pendidik kepada peserta didik. Dalam meilih metode pembelajaran seorang pendidik dituntut untuk dapat meimilh metode yang sesuai oleh situasi dan kondisi peserta didik, disamping itu pendidik juga harus memperhatikan materi yang kan disampaikan agar dapar menyelaraskan dengan metode atu ara yang akan digunakan dalam mengajar.
A. Tujuan Pembelajaran Aqidah Akhlak
Terdapat sejumlah pendapat mengenai tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak.
Namun, setidak-tidaknya dari berbagai macam tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu menurut proses terbentuknya nilai dan menurut hasil pembelajaran.
Menurut prosesnya, khalimi mengidentifikasikan tiga macam tujuan
pembelajaran Aqidah Akhlak. Tujuan pembelajaran itu dijelaskan secara singkat berikut ini.[1] Pertama, yaitu tahu, mengetahui (Knowing). Disini tugas guru adalah mengupayakan agar siswa mengetahui konsep. Siswa diajar agar mengetahui aspek Aqidah dan Akhlak. Guru mengajaran bahwa cara yang paling mudah untuk mengetahui aspek Aqidah dan akhlak ialah dengan meneladani kehidupan Rasulullah SAW. Guru menjelaskan sejarah kehidupan Rasulullah Saw. Guru mengajarkan ini dengan cara memperlihatkan beberapa contoh aspek Aqidah akhlak dari kehidupan Rasulullah SAW. Untuk mengetahui apakah siswa itu memahami, guru sebaiknya memberikan soal-soal latihan, baik dikerjakan disekolah maupun di rumah. Akhirnya guru yakin bahwa siswanya telah mengetahui cara menentukan mana yang merupakan bagan dari aspek aqidah dan mana yang merupakan bagian dari aspek akhlak.
Ketiga, melaksanakan yang ia ketahui itu. Konsep seharusnya tidak sekedar
menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadianya. Dalam hal contoh tadi, setiap ia hendak mengetahui mana yang aspek aqidah dan mana yang aspek akhlak, ia selalu menggunakan pemahaman yang telah diketahuinya itu. Inilah satuan pengajaran aspek being. Dalam pengajaran yang mengandung nilai dan keyakinan, seperti pendidikan aqidah akhlak, proses dari knowing dan doing dari doing ke being itu akan berjalan secara otomatis. Artinya, jika siswa telah mengetahui konsepnya, telah trampil melaksanakanya, secara otomatis ia akan melaksanakan konsep itu dalam kehidupannya. Nanti dalam kehidupannya, ia akan berupaya untuk menerapkan aspek aqidah dan akhlak dalam kehidupanya dengan baik.
Jika ia kurang baik aqidah atau akhlaknya, paling tidak ia akan merasa menyesali diri
belum mampu memperbaiki aqidah akhlaknya. Mungkin ia belum mampu
memperbaiki aqidah dan akhlakdalam segenap tingkah lakunya, tetapi pemahaman tentang aqidah akhlaknya secara benar tidak mungkin diselewengkan. Karena itu, dalam pengajaran yang mengandung nilai, proses pembelajaran untuk mencapi aspek being tidaklah sulit.
Menurut hasil pembelajaran, maka tujuan pemebelajaran aqidah akhlak adalah;
1. Siswa mampu menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap
perkembangan anak.
2. Siswa mampu menunjukkan sikap jujur dan adil.
3. Siswa mampu mengenal keberagaman agama,udaya,suku,ras, dan golongan
sosial ekonomi dilingkingan sekitarnya.
4. Siswa mampu berkomunikasi secara satuan yang mencerminkan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk tuhan
5. Siswa mampu menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman dan
manfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntutan agamanya.
6. Siswa mampu menjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap sesama
manusia dan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Djasuri menambahkan nahwa tujuan pembelajaran akhlak pada intinya adalah ahar setiap siswa memiliki pengertian baik-buruknya sesuai perbuatannya, agar dapat mengamalkannya sesuai dengan ajaran Islam dan selalu berakhlakul karimah. Di mana secara operasionalnya, tujuan pembelajaran tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut:[2]
1. Menumbuhkan pembentukan kebiasaan berakhlak mulia dan beradat kebiasaan yang baik.
2. Memantapkan rasa keagamaan pada siswa, mebiasakan diri berpegang pada
akhlak mulia dan membenci akhlak yang rendah.
3. Membiasakan siswa kepada bersikap rela, optimis, percaya diri, menguasai
emosi, tahan menderita dan sabar.
4. Membiasakan siswa arah sikap yang sehat yang dapat membantu mereka
berinteraksi sosial yang baik, mencintai kebaikan untuk orang lain, suka menolong, sayang kepada yang lemah dan menghargai prang lain.
5. Membiasakan siswa bersopan santun dalam berbicara dan bergaul baik di
sekolah maupun diluar.
6. Selalu tekun beribadah dan menekatkan diri kepada Allah dan bermuamalah yang baik.
B. Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak
Pengertian materi pembelajaran (instructional material) adalah bentuk
bahan atau seperangkat substansi pembelajaran untuk membantu guru/instruktur dalam kegiatan belajar mengajar yang disusun secara sistematis dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi pembelajaran merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan untuk perencanaan dan penelaah implementasi pembelajaran serta untuk membantu dalam kegiatan belajar mengajar di kelas sehingga disusun secara sistematis untuk menampilkan sosok yang utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam proses pembelajaran.
➢ Prinsip Penentuan Materi Pelajaran
Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan
kegiatan belajar mengajar, sehingga harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah:
➢ Relevansi (kesesuaian)
Materi pembelajaran relevan dengan tujuan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Misalkan jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi lain.
➢ Konsistensi (keajegan)
Materi pembelajaran konsisten dengan tujuan pencapaian standar kompetensi
dan kompetensi dasar. Misalkan jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada dua macam maka materi yang diajarkan harus juga meliputi dua macam.Materi pembelajaran yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai konpetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum.
➢ Pertimbangan Materi Pembelajaran
Selain prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran, dalam pengembangan materi belajar guru harus mampu mengidentifikasikan dan mempertimbangkan hal-hal berikut:
• Potensi peserta didik meliputi potensi intelektual, emosional, spiritual, sosial dan potensi vokasional
• Relevansi dan karakteristik daerah.
• Relevansi kebutuhan peserta didik dan tuntunan lingkungan
• Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual peserta didik
• Kebermanfaatan bagi peserta didik.
• Struktur keilmuan yang sesuai dengan materi pembelajaran suatu ilmu.
• Aktulaitas, kedalaman dan keluasan materi pembelajaran.
• Alokasi waktu
C. Metode Pembelajaran Aqidah Akhlak
Metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti "melalui" dan hodos berarti "jalan" atau "cara."[3] Dengan demikian metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. “Metode diartikan juga sebagai sarana untuk menemukan, menguji dan menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin sesuatu”. [4]
Metode pada hakikatnya adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan.[5] Dari pengertian-pengertian di atas metode adalah jalan untuk mencapai tujuan yang bermakna untuk ditempatkan pada posisi sebagai cara dalam menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan ilmu atau pemikiran secara sistematika.
Metode memiliki kaitan erat dengan pendidikan Islam, sehingga mengandung arti sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang agar menjadi pribadi yang Islami. Karena itu metode dalam pendidikan Islam diartikan sebagai suatu cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam al-Qur'an metode indentik dengan Thariqah yang
terdiri dari objek, fungsi, sifat, akibat dan sebagainya.
Penerapan suatu metode dalam setiap situasi pengajaran haruslah mempertimbangkan dan memperhatikan berbagai kemungkinan-kemungkinan
yang dapat mempertinggi mutu dan efektifitas suatu metode tertentu. Kalau tidak, maka bukan saja akan berakibat proses pengajaran terhambat, akan tetapi akan berakibat lebih jauh, yaitu tidak tercapai tujuan pengajaran sebagaimana yang telah ditetapkannya.
Adapun metode pembelajaran yang biasa digunakan dalam pembelajaran mata pelajaran aqidah akhlak diantaranya:
1. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu metode dalam pendidikan dimana cara penyampaian materi kepada anak didik dengan jalan penerapan penuturan secara
lisan untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu
mengajar yang lain, misalnya gambar-gambar, peta, denah atau alat peraga
lainnya. [6]
Kelebihannya: Dalam waktu relatif singkat dapat disampaikan bahan
sebanyak-banyaknya, guru dapat menguasai seluruh kelas dengan mudah walaupun jumlah murid cukup banyak, dapat menghemat waktu, semua siswa mempunyai kesempatan yang sama dalam mendengar dan keterangan atau konsep yang disampaikan guru dapat berurutan
Adapun kekurangannya: Siswa menjadi pasif karena mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menemukan sendiri, guru sukar untuk mengetahui pemahaman anak terhadap bahan-bahan yang diberikan, materi yang diceramahkan
mudah dilupakan siswa, menimbulkan rasa bosan pada siswa dan pada umumnya siswa memahami masalah secara verbal.[7]
2. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyajian pelajaran bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh siswa,penggunaan metode tanya jawab bermaksud memotivasi siswa untuk bertanya. Metode ini pun ada kelebihan dan kekurangannya. Adapun kelebihan metode tanya jawab adalah: situasi kelas akan lebih hidup karena anak didik aktif menyampaikan pemikirannya, melatih agar siswa berani mengemukakan murid pendapat secara teratur dan guru dapat mengontrol pemahaman murid pada masalah yang dibicarakan.
Adapun kekurangannya: apabila terjadi perbedaan pendapat akan banyak memakan waktu untuk menyelesaikannya, kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian anak didik terutama apabila terdapat jawaban yang kebetulan menarik perhatiannya, tetapi bukan sasaran yang dituju dan kurang dapat secara cepat merangkum bahan-bahan yang dipelajari.
Metode tanya jawab cocok digunakan untuk mengajar bidang studi Akidah
Akhlak dimana ada siswa yang tidak fokus terhadap pelajaran, karena pelajaran
Akidah Akhlak ini biasanya diberikan pada akhir jam pelajaran dengan sendirinya
siswa jenuh dengan pelajaran lain dan siswa sering mengantuk, dengan metode ini dapat merangsang kepada apa yang sedang dibicarakan proses belajar mengajar berjalan guru yang bertanya (mengajukan pertanyaan dan siswa yang menjawab) sehingga dapat terangsang perhatiannya pada masalah yang sedang dibicarakan.[8]
3. Metode Pemberian Tugas
Pemberian tugas adalah suatu pekerjaan yang harus siswa selesaikan tanpa terikat dengan tempat pemberian tugas belajar, biasanya dikaitkan dengan resitasi adalah suatu persoalan yang berhubungan dengan masalah pelaporan siswa sesudah setelah mereka selesai mengerjakan suatu tugas.[9]
Ada kelebihan dan kekurangannya metode ini. Kelebihannya adalah: baik sekali untuk mengisi waktu luang, memupuk rasa tanggung jawab pada apa yang telah dikerjakan dan melatih anak didik kepada norma-norma disiplin Adapun kekurangannya adalah: guru tidak dapat mengawasi pelaksanaan tugas ini sehingga kemungkinan siswa mengantuk, siswa yang tidak mampu mengerjakan tugasnya akan berusaha menghindari pelajaran tersebut dengan berbagai alasan dan jika semua pelajaran diberikan tugas, menyebabkan kesukaran bagi anak didik dalam membagi waktu untuk semua tugasnya.
4. Metode Diskusi
Diskusi adalah memberikan alternative jawaban untuk membantu menyelesaikan masalah dan metode ini merupakan bagian yang terpenting dalam menjelaskan sesuatu masalah. Serta membantu siswa untuk berpikir dan
mengeluarkan pendapat sendiri. Metode ini juga memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Adapun kelebihannya: kemungkinan anak didik yang tidak ikut
aktif, sehingga bagi anak ini, diskusi merupakan kesempatan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, siswa yang peduli akan mendominasi dalam diskusi dan memerlukan waktu yang banyak. Berdiskusi adalah kegiatan manusia yang alamiah, sesuatu kegiatan yang menarik kreatif dan mengasikkan. Dalam suatu diskusi para peserta berfikir bersama dan mengungkapkan fikirannya, sehingga menimbulkan pengertian pada dirinya sendiri, pada kawan-kawan diskusi dan juga pada masalah yang di diskusikan.[10]
Dan dapat menimbulkan pemahaman yang lebih kongkrit oleh karena itu metode ini merupakan salah satu metode yang ampuh dan menarik.metode ini para peserta tidak hanya dilatih untuk membahas masalah, memecahkan persoalan melalui tukar pikiran dilatih juga teknik wawancara sistematis dan efektif dan analisa dari pembimbing akan membantu proses belajar para siswa.
5. Metode Latihan
Metode latihan adalah cara mengajar untuk menanamkan kebiasaan tertentu
juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan yang baik selain itu metode ini
dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketetapan, kesempatan dan
keterampilan. Penggunaan istilah(Latihan) sering disamakan artinya dengan “ulangan” padahal maksudnya berbeda. Latihan bermaksud agar pengertian dan
kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya,
sedangkan ulangan hanyalah untuk sekedar mengukur sejauh mana ia telah
menyerap pengajaran tersebut.[11]
6. Metode Pembiasaan
Menurut Abdullah Nasih Ulwan, “metode pembiasaan adalah cara atau upaya yang praktis dalam pembentukan (pembinaan) dan persiapan anak.” [12] Metode pembiasaan merupakan salah satu upaya pendidikan yang baik dalam pembentukan manusia dewasa. Oleh karena itu, dapat diambil suatu pengertian bahwa yang dimaksud metode pembiasaan adalah sebuah cara yang dipakai pendidik untuk membiasakan anak didik secara berulangulang sehingga menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan dan akan terus terbawa sampai di hari tuanya.
Ciri khas metode pembiasaan adalah kegiatan yang berupa pengulangan
berkali-kali dari suatu hal yang sama. Pengulangan ini sengaja dilakukan berkali-kali supaya asosiasi antara stimulus dengan suatu respon menjadi sangat kuat. Atau dengan kata lain, tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, terbentuklah pengetahuan siap atau keterampilan siap yang setiap saat siap untuk dipergunakan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebagai awal dalam proses pendidikan, pembiasaan merupakan cara yang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral ke dalam jiwa anak.[13]
D. Langkah - langkah memilih Materi
pembelajaran dan strategi pembelajaran
Ibrahim dan Syaodih (2010:104) menjelaskan beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam memilih atau menetapkan materi pelajaran sebagai berikut:
1. Tujuan pengajaran.
Materi pelajaran hendaknya ditetapkan dengan mengacu pada tujuan-tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Maka dari itu materi pelajaran yang diberikan
dalam setiap mata pelajaran hendaknya mendukung pencapaian tujuan
pembelajaran mata pelajaran yang bersangkutan, dalam rangka mewujudkan fungsi pendidikan yang diemban oleh sekolah tersebut.
2. Pentingnya bahan.
Materi pembelajaran yang diberikan merupakan bahan yang benar-benar
penting, baik dilihat dari tujuan pembelajaran yang ingin dicapai maupun fungsinya untuk mempelajari bahan pembelajaran berikutnya.
3. Nilai praktis.
Materi pembelajaran yang dipilih hendaknya bermakna bagi siswa dalam
arti mengandung nilai praktis atau bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari peserta didik.
4. Tingkat perkembangan peserta didik.
Kedalaman materi pembelajaran yang dipilih harusnya ditetapkan dengan
memperhitungkan tingkat perkembangan berpikir peserta didik yang bersangkutan
dalam hal ini biasanya dipertimbangkan dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan.
5. Tata urutan.
Materi pembelajaran yang diberikan hendaknya ditata dalam urutan yang
memudahkan dipelajarinya keseluruhan materi pembelajaran oleh peserta didik
atau siswa.[14]
Ada beberapa hal yang harus di pertimbangkan dalam dalam pemilihan dan penetapan strategi pembelajaran menurut Hatim Riyanto yaitu:
1. Kesesuaian dengan tujuan intruksional yang akan dicapai.
2. Kesesuaian dengan bahan bidang studi yang terdiri dari aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.
3. Strategi pembelajaran itu mengandung seperangkat kegiatan pembelajaran yang
mungkin mencakup penggunaan beberapa metode pengajaran yang relevan dengan
tujuan dan materi pelajaran.
4. Kesesuaian dengan kemampuan profesional guru terutama dalam rangka
pelaksanaannya di kelas.
5. Cukup waktu yang tersedia, karena erat kaitannya dengan waktu belajar dan
banyaknya bahan yang harus disampaikan.
6. Kesediaan unsur penunjang, khususnya media instruksional yang relevan dan
peralatan yang memadai.
7. Suasana lingkungan dalam kelas dan lembaga pendidikan secara keseluruhan.
8. Jenis-jenis kegiatan yang serasi dengan kebutuhan dan minat siswa, karena erat
kaitannya dengan tingkat motivasi belajar untuk mencapai tujuan intruksional.[15]
Kesimpulan
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwasannya pembelajaran akidah
akhlak memang sangat penting untuk keadaan siswa-siswi dari segi agama. Selain banyak memberikan motivasi dan pengajaran yang baik juga dapat menambahkan sedikit wawasan tentang akhlak dan adab yang baik dari orang-orang terdahulu. Karena semakin menua jaman ini, dapat dilihat semakin menipisnya rasa hormat menghormati sesama manusia apalagi terhadap makhluk hidup yang lain.
Selain hal-hal yang sudah disebutkan, keberhasilan dalam penerapan pembelajaran di kehidupan sehari-hari siswa-siswi juga tak luput dari menariknya
guru dikelas saat mengajar. Dengan pemilihan metode yang tepat serta materi yang sesuai akan sangat bermanfaat bagi siswa-siswi. Dan bisa menjadi sebuah awal generasi yang bisa saling hormat menghormati, saying-menyayangi sesama
manusia dan makhluk hidup ciptaan Allah SWT.
My Refleksi
Mapel aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyikapi peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani Allah subhanahu wa ta'ala dan merealisasikan perilaku akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan pembimbingan pengajaran, latihan, pengunaan pengalaman, keteladanan, dan pembinaan. Dalam masyarakat yang majemuk di bidang keagamaan, pembelajaran disatu sisi, peningkatan toleransi dan salaing menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bagsa.
namun kenyataannya Berdasarkan pengalaman aku secara langsung selama PLP Di MTsN 2 Surakarta di kelas VIII ternyata siswa kurang aktif dalam KBM. Anak cenderung tidak begitu tertarik dengan pelajaran aqidah akhlak karena selama ini pembelajaran aqidah akhlak dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata dan kurang menekan aspek penalaran. Sehingga menyebabkan rendahnya aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak siswa di sekolah sehingga menyebabkan potensi belajar rendah.
Maka perlu pembahasan mengenai materi dan metode terkini yang mutakhir yang disesuaikan dengan karakteristik generasi milenial sehingga terwujudlah tujuan pembelajaran itu sendiri. Sebagaimana yang telah dijelaskan mengenai paparan Tujuan, Materi, dan Metode Pembelajaran yang aktif dan efektif dipoin atas.
Ya Allah...
Berikanlah kelancaran disetiap usahku
Didalam niat membahagiakan orangtuaku
Tegakkanlah pendirianku
Lancarkanlah rezeki dan usiaku
Dan jagalah komitmenku dalam ihtiar kepada-MU
Dan mohon bantuan dan temanilah hamba yang lemah ini, yaa Rabb...
Agar menjadi pantas untuk menjadi kebanggaan orang tua dan Rabb-ku.
@Rilis_Wahyu
Sekian blog kali ini, thanks buat sahabat baca...sukses selalu
@Rilis_Wahyu
#rilisyanglagirindu
#jangankautanyasiapakarnaakupuntaktau
CATATAN KAKI
1 Khalimi, Pembelajaran Akdah dan Akhlak (Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, 2009), Hal. 51
2 Djasuri, Pengajaran Akhlak, Dalam Chabib Thoha. Saifuddin Zuhri, Dan Syamsudinyahya, Metodologi Pengajaran.., Hal. 136
3 H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdesipliner, (Jakarta: Bumi Akasara, 1991), hal. 61.
4 Imam Bernadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan IKIP Yogyakarta, 1990), hal.85.
5 Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma'arif, 1991), hal. 183.
6 Zuhairini dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hal. 83.
7 Tayar Yusuf dan Syaiful Bahri Djamarah, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hal. 45.
8 Imamsyah Ali Pandie, Didakdik Metodik Pendidikan Umum, (Surabaya: Usaha Nasional, t.t.), hal. 79.
9 Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hal. 62.
10 A. G. Lumadi, Pendidikan Orang Dewasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1981), hal. 37
11 Ibid., hal.240.
12 Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil Islam, terj. Khalilullah Ahmad Masjkur
Hakim, Pendidikan Anak Menurut Islam, (Bandung: Rosda Karya, 1992), hal. 60.
13 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2oo2), hal. 110.
14 Rusydi Ananda, Perencanaan Pembelajaran ( Medan : Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia, 2019), hlm 94-95
15 Teguh Harisman, Dasar Pertimbangan Memilih Strategi, Metode, Teknik dalam Pembelajaran PAI, UIN Alauddin Makassar, hlm 9
Komentar
Posting Komentar